Jumat, 15 Mei 2020

Ramadan tahun ini hadir di tengah pademik COVID-19. Sejak awal Ramadan sampai saat ini berita kematian meliputi hari-hari. Termasuk informasi pasien yang terinfeksi positif serta orang-orang dalam pengawasan (ODP) semakin bertambah.
Wabah pandemik COVID-19 memang diprediksikan akan berimbas pada berbagai lini kehidupan. Tak hanya mengancam jiwa, juga melumpuhkan perekonomian negara. Dunia usaha banyak yang tak bisa bergerak bahkan ada yang lumpuh. Banyak karyawan yang dirumahkan (PHK). Angka pengangguran meningkat drastis. Bahkan ada yang sudah mulai kesulitan hanya sekedar untuk makan. Krisis ekonomi dan krisis sosial agaknya (mudah-mudahan tidak) sudah di depan mata.
Sampai saat ini belum ditemukannya vaksin anti korona yang ampuh. Makanya, segala daya upaya dilakukan untuk mencegah penyebaran COVID-19 agar tidak meluas dan tidak semakin banyak jatuh korban. Mulai dari physical atau social distancing sampai penerapan kebijakan Lockdown. 
Istilah Lockdown menjadi sangat populer selama pandemik COVID-19. Lockdown dimaknai sebagai sebuah kebijakan untuk mencegah pemindahan orang, baik masuk atau keluar dari suatu wilayah.
Ternyata, konsep lockdown dalam sejarah perkembangan Islam bukan hal baru. Dalam menghadapi wabah, Rasulullah SAWa telah memberi teladan kepada ummatnya. Bahwa bila datang suatu wabah di suatu daerah tidak boleh memasuki wilayah tersebut. Bila sudah berada  dalam wilayah yang sedang mewabah maka jangan keluar dari wilayah tersebut.
Saat ini, beberapa negara seperti Vietnam, Malaysia dan beberapa negara di Eropa telah menerapkannya. Namun di Indonesia, di daerah  episentrum COVID-19 seperti Jabodetabek,  Jabar, Surabaya dan beberapa daerah lain menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).
Salah satu faktor keberhasilan Lockdown atau apapun istilahnya itu adalah kedisplinan warga dalam mematuhi protokoler pencegahan. Misalnya,  tidak memaksakan diri beraktivitas diluar, sebisa mungkin beraktifitas di rumah atau Work At Home (WAH) dan tetap di rumah atau Stay At Home (SAH). Dalam kondisi seperti ini, pemerintah berkewajiban memberi insentif  tertentu kepada rakyatnya.
Sementara itu, Ramadan dalam suasana "lockdown" seperti saat ini memiliki makna tersendiri. Beda dengan Ramadan dalam keadaan normal. Dalam keadaan "lockdown" ada pembatasan aktivitas warga diluar rumah. Sehingga suasananya sejalan dengan suasana yang diharapkan dalam bulan Ramadan dimana muslim di seluruh dunia sedang menjalankan ibadah puasa.
Bagi kaum muslim, Ramadan  adalah bulan yang dinanti-nantikan. Dimana, dalam Ramadan selalu bertaburkan rahmat, maghfirah, pahala berlipat ganda dan pertolongan Allah SWT. Dalam rangka menggapai itu semua sebisa mungkin pelaksanaan ibadah terutama ibadah puasa yang diwajibkan kepada orang-orang beriman (QS: Al-Baqarah: 183) dapat dilakukan sekhusuk mungkin.
Bagi orang-orang beriman, melaksanakan ibadah puasa dengan khusuk adalah sebuah kenikmatan. Menikmati kenikmatan berpuasa adalah puncak tertinggi yang diimpikan selama bulan Ramadan. Lagi pula, puasa memiliki terminasi istimewa yaitu ibadah yang tak tertandingi. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW kepada Abu Ummah Al-Bahili: "Hendaklah engkau berpuasa karena puasa itu ibadah yang tidak ada tandingannya" (HR.Ahmad dan Nasa'i).
Kemudian ditambah lagi makna puasa di sisi Allah SWT seperti dalam sebuah hadist Qudsi yang sering dibacakan penceramah di setiap bulan Ramadan, Allah berfirman: "Setiap amal manusia itu bagi dirinya, kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku. Akulah yang akan langsung memberikan pahalanya" (HR. Bukhari-Muslim).
Melaksanakan ibadah puasa dalam suasana wabah COVID-19, tentu ada sebagian orang memiliki perasaan  khawatir dan was-was serta menakutkan. Namun, bagi orang-orang beriman dalam kondisi apapun pasti akan selalu mengedepankan kesabaran. Apalagi ibadah puasa identik dengan sikap sabar. Orang yang berpuasa akan diberi pahala tanpa batas sebagaimana orang-orang yang sabar. Allah SWT berfirman: "Sungguh orang-orang yang sabar itu diberi pahala tak terbatas" (QS: Az-Zumar:10).
Kemudian puasa dalam suasana wabah COVID-19 pasti memiliki nilai sangat istimewa di hadapan Allah SWT. Sebab ada tiga jenis kesabaran dalam menjalani ibadah puasa saat wabah COVID-19, yaitu: Pertama, sabar karena ketaatan kepada Allah yakni menahan makan, minum dan melakukan hubungan suami isteri. Kedua, sabar tidak bisa mengunjungi sanak saudara dikampung. Ketiga, sabar menghadapi kondisi yang tidak menentu karena tidak tahu kapan COVID-19 ini berakhir.
Dalam menghadapi wabah, pahala kesabaran setara dengan pahala syahid. Hal ini sesuai dengan Sabda Rasulullah SAW: "Tidaklah seorang hamba, saat tha'un (wabah) terjadi berdiam di negerinya -- dalam riwayat Imam Ahmad yang lain, lalu berdiam di rumahnya-- seraya bersabar dan mengharap ridha Allah, dan dia menyadari bahwa tidak menimpa dirinya kecuali apa telah Allah tuliskan untuk dia, kecuali bagi dia pahala semisal pahala syahid" (HR. Bukhari dan Ahmad).
Hadis diatas menggambarkan ganjaran pahala yang sangat besar saat menjalani "lockdown" yang dilakukan dengan sabar serta yakin dengan ketentuan Allah.  Belum lagi menjalaninya dalam bulan Ramadan seperti kondisi saat ini.
Bahkan bagi orang-orang beriman, untuk mencapai nilai sempurna ibadah puasa dalam bulan Ramadan, tanpa wabahpun sudah membatasi diri selalu dalam suasana mirip lockdown. Sehingga dalam kondisi seperti saat ini dimana COVID-19 belum mampu dihentikan secara total. Maka Ramadan adalah kesempurnaan "Lockdown" Bagi Orang-Orang yang Beriman. Wallahu Ta'ala 'Alam. (Refrensi dari berbagai sumber). Banda Aceh, 7-10 Ramadan 1441H /1-3 Mei 2020 M.

Jumat, 01 Mei 2020

Hari Jumat yang lalu  Tanggal 23 April 2020 M, bertepatan dengan 1 Ramadhan 1441 H. Artinya, pada hari itu seluruh muslim dunia sudah memulai pelaksanaan salah satu ibadah wajib yaitu puasa pada bulan Ramadhan.
Kebiasaan muslim dalam menyambut bulan Ramadhan selalu diliputi rasa gembira dan senang. Karena bulan Ramadan memiliki kelebihan-kelebihan termasuk pengampuanan dari dosa-dosa yang ada.   
Berdasarkan pantauan suasana penyambutan bulan Ramadan di Aceh, yang selalu disambut dengan rasa gembira dan senang yang terakumulasi dalam tradisi Meugang, yaitu tradisi  menyabut bulan puasa  dengan makan masakan daging di setiap rumah. 
Meskipun meugang di Aceh tetap berlangsung tapi tidak semeriah tahun-tahun sebelumnya. Hal ini terpantau dari lapak penjualan daging dimana animo masyarakat menurun drastis.
Saya yakin, diseluruh duniapun menyambut bulan yang mulia bagi umat muslim tidak seperti biasa.  Perbedaan suasana tersebut tentu saja karena dunia sedang dilanda pademi global yaitu wabah virus covid-19  yang mematikan. 
Sehingga saat menjelang puasa, kebanyakan muslim masih diliputi rasa was-was bahkan masih banyak orang yang harus berada dalam karantina. 
Ada lagi yang harus mengikuti protokol pencegahan karona seperti physical atau social distancing dan bahkan ada himbauan tak boleh mudik ke kampung halaman. 
Termasuk ada ketentuan tidak boleh berkumpul shalat tarawih pada malam-malam Ramadhan di Mesjid. Hal ini, menjadi pukulan tersendiri bagi semua muslim apakah dia selama ini ta'at atau biasa-biasa saja dalam beribadah.
Semua itu terjadi karena ada makhluk Allah yang teramat sangat kecil tak bisa dilihat dengan mata telanjang, yang dikenal dengan nama Korona. Makhluk kecil ini membuat manusia resah dan dibuatnya tak berdaya.
Bukan hanya negara-negara miskin yang tak berdaya tetapi negara super power seperti Amerika Serikat dibuatnya tak mampu berbuat apa-apa.
Apalagi sampai saat ini para ahli di berbagai belahan dunia belum mampu menemukan obat menghentikan penyebaran  virus Covid-19. Sehingga, setiap hari jumlah orang yang meninggal terus meningkat.
Sebagai orang yang beriman apa yang terjadi saat ini dengan wabah virus covid-19, harus menjadi pembelajaran dan bahan renungan.
Kenapa tidak, hanya dengan makhluk halus tak seorangpun berkutik dan kuasa melawannya, baik dia raja, pemimpin, orang kaya, hebat, semua harus sembunyi di rumah-rumah mereka untuk menghindari virus ini.
Mengutip sebuah tulisan di media sosial tentang muhasabah,  menyatakan bahwa manusia itu lemah, namun senantiasa congkak dan sombong, senantiasa membangkang, menolak aturan Allah, memperturutkan hawa nafsu, senantiasa membuat kerusakan, dan durhaka terhadap Allah. 
Lihatlah betapa kerusakan telah merajalela di muka bumi,  kecurangan dan penipuan menjadi perilaku, seks bebas, perdagangan manusia, pembantaian dan pembunuhan, penjajahan gaya baru, riba dan zina disistemkan, manusia merasa bangga jika bisa menjauhi tuhannya. 
Begitu rusaknya dunia saat ini hingga alampun marah, gunung Merapi siap meletus, asteroid siap menghantam, gempa bumi terjadi dimana-mana. Termasuk wabah virus Covid-19.

INTROPEKSI DIRI

Wabah korona yang sedang berlangsung dalam bulan puasa tahun ini  semestinya   menjadi momen muhasabah diri. Kenapa hanya dengan virus covid-19 yang sangat kecil, manusia tidak bisa berbuat apa-apa dan nyaris tak berdaya terutama untuk memperoleh obat penangkalnya. 
Tentu, ada pesan yang lebih besar dari itu. Manusia tidak boleh berperilaku sombong, congkat dan angkuh. Bagi orang-orang beriman apapun yang terjadi saat ini tak lebih dari sebuah cobaan yang membuat  semakin bertaqwa kepada Allah dan bukan sebaliknya. 
Manusia harus berperilaku adil di dunia ini. Bukan hanya dengan sesama manusia tetapi juga dengan berbagai makhluk yang ada didunia termasuk alam sekitar. 
Makanya, Ramadhan tahun ini, haruslah menjadi titik tolak perubahan diri khususnya muslim di dunia. Kembali ke jalan ilahi, dengan bertaubat dan sadar bahwa manusia tak berarti apa-apa. Semuanya ada yang maha mengendali semuanya. 
Semoga Ramadhan tahun ini, manusia kembali kepada fitrahnya sebagai khalifah dalam konteks mengatur keseimbangan alam. Sehingga alam dengan isinya tak merubah diri menjadi makhluk yang ganas dan menghancurkan seperti yang kita rasakan saat ini. Wallahu Ta'ala "Alam.

Senin, 20 April 2020

MEUGANG atau Mak Meugang adalah tradisi khas Ureueng (orang) Aceh. Tradisi ini sudah berbilang ratusan tahun yang dirayakan secara turun temurun di Aceh.
Bagi orang Aceh, meugang (khususnya menyambut bulan Ramadhan) sungguh sangat bermakna. Banyak cerita yang muncul,  utamanya adalah cerita kegembiraan, kebahagiaan sampai cerita romantis bagi pasangan yang baru menikah.
Selain itu, tentu cerita sedih juga muncul di hari baik dan bulan baik  (uroe get buleun get) itu.  Misalnya ada orang tua yang berpenghasilan pas-pasan, bela-belain (harus berutang) untuk beli daging agar pada saat meugang dapur dapat mengempul asap beraroma daging.
Begitu pula, ureung-ureung Aceh diperantauan baik yang sudah berkeluarga atau jomblo, terkadang harus mengurut dada bila saat meugang tak bisa balik ke Aceh. Apalagi ada kekasih (baca: tunangan) yang ditinggalkan dikampung. Pasti ada sesuatu yang  hilang bila saat meugang tak dapat pulang kampung, hanya sekedar bertemu dengan "Mak Tuan" dan Kekasih hati.
Dahsyatnya makna mak meugang bagi orang Aceh. Kadang tak bisa digambarkan dengan kata-kata.
Karena itu, saya yakin, menjelang Ramadhan tahun 1441 H atau bertepatan tahun 2020 M, semua ureueng Aceh sudah mempersiapkan segala sesuatu untuk Uroe Mak Meugang menyambut puasa tahun ini.
Namun persoalannya adalah,  tiba-tiba dan tanpa disangka-sangka, muncul  wabah Korona yanf menyebar ke seluruh pelosok dunia.
Kendati pada awalnya kita agak santai menanggapi Korona, karena punya keyakinan tidak akan muncul di Indonesia apalagi  Aceh.
Tapi faktanya, daerah yang dijuluki Serambi Mekkah tak luput dari serangan wabah yang mematikan itu.
Bahkan, pasien positif korona di Aceh ada yang meninggal dunia  Meskipun, pernah diumumkan di Aceh nol terinfeksi, karena pasien positif terakhir, beberapa waktu yang lalu dinyatakan sembuh.
Namun,  informasi terakhir (19/4/2020), diumumkan, paling kurang ada 7 orang positif korona yang teridentifikasi di Aceh dan dirawat RSUZA Banda Aceh.
Artinya, masyarakat Aceh wajib waspada tinggi dan siaga 1 terhadap penyebaran virus COVID-19, yang bisa saja dengan teman sendiri. Apalagi ada istilah orang tanpa gejala (OTG).
Karenanya, pemerintah Aceh melalui Plt Gubernur telah menghimbau khususnya kepada ASN di Aceh untuk tidak pulang kampung alias mudik. Bahkan, konon, ada instansi di bawah pemerintah Aceh yang akan memberi sanksi bila ada pegawainya, baik ASN maupun honorer yang dari Banda Aceh pulang kampung.
Suasana Meugang Tahun Ini
Saya punya keyakinan, meskipun di tengah wabah korona, sebagian besar masyarakat Aceh pasti  merayakannya. Sebab, seperti yang telah kita sebutkan pada awal-awal tulisan ini, mak meugang sudah menjadi budaya yang mendarahdaging bagi ureung Aceh.
Namun ada hal yang mengkhawatir bahwa akan terjadi pelanggaran protokol pencegahan COVID-19. Salah satunya adalah social distancing atau physical distancing.
Kenapa tidak, biasanya meugang diawali dengan berbondong-bondong Masyarakat Aceh beli daging. Sebab, salah satu essensi meugang adalah menyantap masakan daging disetiap rumah. Ada adagium, tidak ada masak daging berarti tidak ada meugang.
Pengalaman selama ini, setiap meugang, hampir di seluruh sudut pasar-pasar di Aceh ada lapak penjual daging. Setiap lapak, pemandangan yang terlihat adalah orang-orang berdesakan.
Situasi seperti itu sangat mengkhawatirkan berkaitan dengan penyebaran virus korona. Bila tidak disiplin dengan langkah-langkah pencegahan korona, akan muncul cerita yang sangat mengerikan.
Apalagi, diperparah dengan masih adanya tabiat dari sebagian oran-orang kita yang "meremehkan" keadaan yang ada. Bahkan ada yang menganggap enteng, korona tidak apa-apa, meski sangat mematikan.
Kebiasaan lain setiap hari-hari meugang ada acara kumpul-kumpul. Bahkan, dikampung ada orang yang pulang dari luar Aceh. Karena, hari meugang, merasa tidak enak bila yang datang dari jauh tidak dijamu. Padahal, sebenarnya, mereka yang baru datang dari luar daerah apalagi dari daerah episentrun Korona (termasuk medan dan sekitarnya) harus melaksanakan isolasi mandiri selama 14 hari.
Namun demikian, meskipun harus merayakan meugang, masyarakat harus disiplin. Pertama, tetap menjaga jarak. Kedua, menghindari kerumunan. Ketiga, rajin cuci tangan dengan benar. Keempat, sebelum cuci tangan, tangan tak boleh menyentuh bagian muka. Karena, virus korona mudah terinveksi melalui bagian wajah. Kelima, terus menerus berdoa untuk dijauhkan dari segala mara bahaya.
Langkah Antisipatif Pemerintah Aceh
Selain ada kebijakan pemerintah Aceh melarang pegawainya pulang kampung.
Sebaiknya juga pemerintah Aceh membuat semacam SOP atau langkah-langkah yang jelas dan disampaikan kepada masyarakat saat meugang berlangsung tahun  ini termasuk tata cara penjualan daging meugang.
Sebab dapat dipastikan, akan ada lonjakan pembelian daging meugang di seluruh Aceh meskipun ditengah wabah korona.
Salah satu langkah antisipatif pemerintah  adalah dengan menurun aparat keamanan pada lapak penjualan daging, untuk mengatur, agar masyarakat disiplin menjaga jarak saat membeli daging meugang.
Begitu juga, sebaiknya, pemerintah dapat mendelegasikan kepada pemerintah Kecamatan atau Gampong untuk  menentapkan lokasi khusus yang luas tempat penjualan daging meugang.
Misalnya di lapangan  sepakbola atau lokasi luas lainnya yang mudah terjangkau.  Sehingga antar pedagang daging dapat diatur jarak sedemikian rupa menghindari penumpukan pembeli. 
Selama ini kita saksikan, saat meugang, antara penjual dan pembeli selalu berdesakan. Hal ini yang harus dihindari saat wabah korona.
Terakhir, alangkah lebih baik, bila Pemerintah Aceh dan Pemerintah Kabupaten/kota, untuk meugang tahun ini,  memborong semua daging dari pedagang yang kemudian  mengantar ke rumah-rumah warga paling kurang 2 kg/KK untuk semua penduduk seantero Aceh. Saya yakin, cara ini paling ampuh juga menjaga masyarakat Aceh dari virus Korona saat Meugang menyambut Puasa. Wallahu Ta'ala 'Alam
Alkisah, orang-orang yang di Aceh tidak ada satupun yang terinfeksi coronavirus disease (Covid-19). Kalau tidak percaya, saudara boleh cek satu persatu.
Tetapi, kenapa sudah ditemukan ada yang  positiv covid-19 bahkan ada yang meninggal di Aceh?. Nah, soalannya. Semua yang sudah terinfeksi korona itu adalah orang-orang Aceh yang pulang dari luar  atau orang luar yang datang ke Aceh. Bukan orang yang di Aceh yang tak  kemana-mana terinfeksi korona.
Sekarang, yang menurut saya kurang "srek" kalau tidak boleh dibilang gila adalah orang di Aceh yang tak pernah kemana-mana justru seolah-olah dihukum.
Selama ditemukannya yang positif korona di Aceh yang kebanyakan tidak kemana-mana dibatasi aktivitasnya. Tidak boleh ke warung kopi padahal ini sudah menjadi Trade Mark orang Aceh, tidak boleh lagi ngumpul bareng-bareng lagi. Tidak boleh ke Mesjid berjamaah (ini bukan kajian fiqh saat darurat ya) padahal Aceh adalah negeri syariat. Bahkan, terakhir diberlakukan jam malam. Bagi orang yang menikmati Aceh selama ini, situasi seperti saat ini atau dengan istilah distancing Social dirasakan sebagai sebuah hukuman. Padahal orang- orang yang di Aceh yang tidak kemana-mana tidak salah apa-apa.
Padahal yang semestinya kena sanksi atau hukuman itu adalah orang Aceh yang pulang ke Aceh atau orang luar datang ke Aceh, apakah dia pembisnis, pelancong atau bahkan majelis ta'lim. Apalagi pernah singgah didaerah episentrum covid-19.
Padahal bila orang-orang seperti ini apalagi mereka jelas-jelas baru pulang dari daerah episentrum korona yang diperlakukan khusus (jika tak boleh dibilang sanksi atau hukuman) itu akan lebih gampang memutus rantai penyebaran korona.
Misalnya, Aceh cuma satu Bandara, dari awal semestinya dibatasi. Saat penumpang turun, mereka itu diperintahkan dengan cara keras tak boleh ke warung kopi, mereka ini tak boleh ngumpul, pokok dibatasi diam di rumah selama 14 hari.
Bisa jadi, mereka ini beri label, apakah seperti gelang yang tak mudah dilepaskan, sehingga masyarakat lain atau orang- orang kampung atau pak geuchik dan aparat gampong tahu kalau mereka ini tak boleh didekati dulu dan aktivitasnya dibatasi. Biar orang tahu pemda mengumumkan bahwa yang tanda itu tak boleh didekati dulu sebelum diyakini dia tak kena covid-19.
Begitu pula perlakuan yang sama bagi mereka yang pulang dengan Bus atau L-300 (pasti yang dengan Bus/L-300 itu umumnya pulang dari medan) baik  jalur timur maupun jalur barat.
Pada saat yang sangat ekstrem seperti saat ini, mereka yang turun dari Pesawat langsung semuanya wajib dibawa ke tempat penampungan sementara yang disediakan pemda. Sesampai ditempat tersebut, apakah teridentifikasi atau tidak bila mrk mereka mau pulang harus bersumpah dengan lafaz Demi Allah mau melakukan isolasi diri. Kalau terlihat main- main seperti tidak mau karantina mandiri, dengan segala konsekwensi aparat atau petugas wajib menahan mereka utk dikarantina massal.
Sehingga dengan demikian jelas mana yang berpotensi terinfeksi dan mana yang tidak.
Apa yang kita rasakan saat ini, seperti kita berada di hutan belantara. Kita tidak tahu siapa yang sudah bersentuhan dengan yang berpotensi terinfeksi dan tidak tahu siapa yang memang sudah terinfeksi. Karena yang berpotensi tidak dipisahkan atau ditandai. Padahal bila yang berpotensi terinfeksi diidentifikasi, situasi seperti saat ini bisa dihindari.
Kenapa ini tidak dilakukan? Karena mereka-mereka (jangan besar- besar dibaca/sir) tidak cerdas membaca situasi atau malas berpikir, meski penampilan parlente).
Akibatnya, maka muncullah kebijakan yang seperti saat ini. Orang-orang di Aceh, yang tidak kemana-mana, tidak salah apa-apa, yang sehari-hari,  kiri kanan cari nafkah, seolah-olah diberi perlakuan seperti orang bersalah (bila tak boleh dikatakan diberi sanksi atau hukuman).
Tapi mau bilang apa? Kalau pengambil kebijakan kadarnya terbatas. "Anggota Dewan juga Taheu mantong" alias diam tidak bersuara.

Resent Post

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Cari Blog Ini

Join Us

Setiap Tulisan yang Ingin diambil atau dicopy di Blog ini Sangat Etis Bila diberi tahu. Diberdayakan oleh Blogger.

Video

Popular Posts

Video of Day

Our Facebook Page

  • Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit.
  • Aliquam tincidunt mauris eu risus.
  • Vestibulum auctor dapibus neque.

Find us on Facebook

Our Facebook Page

About

News

Opinium