Senin, 20 April 2020

MEUGANG atau Mak Meugang adalah tradisi khas Ureueng (orang) Aceh. Tradisi ini sudah berbilang ratusan tahun yang dirayakan secara turun temurun di Aceh.
Bagi orang Aceh, meugang (khususnya menyambut bulan Ramadhan) sungguh sangat bermakna. Banyak cerita yang muncul,  utamanya adalah cerita kegembiraan, kebahagiaan sampai cerita romantis bagi pasangan yang baru menikah.
Selain itu, tentu cerita sedih juga muncul di hari baik dan bulan baik  (uroe get buleun get) itu.  Misalnya ada orang tua yang berpenghasilan pas-pasan, bela-belain (harus berutang) untuk beli daging agar pada saat meugang dapur dapat mengempul asap beraroma daging.
Begitu pula, ureung-ureung Aceh diperantauan baik yang sudah berkeluarga atau jomblo, terkadang harus mengurut dada bila saat meugang tak bisa balik ke Aceh. Apalagi ada kekasih (baca: tunangan) yang ditinggalkan dikampung. Pasti ada sesuatu yang  hilang bila saat meugang tak dapat pulang kampung, hanya sekedar bertemu dengan "Mak Tuan" dan Kekasih hati.
Dahsyatnya makna mak meugang bagi orang Aceh. Kadang tak bisa digambarkan dengan kata-kata.
Karena itu, saya yakin, menjelang Ramadhan tahun 1441 H atau bertepatan tahun 2020 M, semua ureueng Aceh sudah mempersiapkan segala sesuatu untuk Uroe Mak Meugang menyambut puasa tahun ini.
Namun persoalannya adalah,  tiba-tiba dan tanpa disangka-sangka, muncul  wabah Korona yanf menyebar ke seluruh pelosok dunia.
Kendati pada awalnya kita agak santai menanggapi Korona, karena punya keyakinan tidak akan muncul di Indonesia apalagi  Aceh.
Tapi faktanya, daerah yang dijuluki Serambi Mekkah tak luput dari serangan wabah yang mematikan itu.
Bahkan, pasien positif korona di Aceh ada yang meninggal dunia  Meskipun, pernah diumumkan di Aceh nol terinfeksi, karena pasien positif terakhir, beberapa waktu yang lalu dinyatakan sembuh.
Namun,  informasi terakhir (19/4/2020), diumumkan, paling kurang ada 7 orang positif korona yang teridentifikasi di Aceh dan dirawat RSUZA Banda Aceh.
Artinya, masyarakat Aceh wajib waspada tinggi dan siaga 1 terhadap penyebaran virus COVID-19, yang bisa saja dengan teman sendiri. Apalagi ada istilah orang tanpa gejala (OTG).
Karenanya, pemerintah Aceh melalui Plt Gubernur telah menghimbau khususnya kepada ASN di Aceh untuk tidak pulang kampung alias mudik. Bahkan, konon, ada instansi di bawah pemerintah Aceh yang akan memberi sanksi bila ada pegawainya, baik ASN maupun honorer yang dari Banda Aceh pulang kampung.
Suasana Meugang Tahun Ini
Saya punya keyakinan, meskipun di tengah wabah korona, sebagian besar masyarakat Aceh pasti  merayakannya. Sebab, seperti yang telah kita sebutkan pada awal-awal tulisan ini, mak meugang sudah menjadi budaya yang mendarahdaging bagi ureung Aceh.
Namun ada hal yang mengkhawatir bahwa akan terjadi pelanggaran protokol pencegahan COVID-19. Salah satunya adalah social distancing atau physical distancing.
Kenapa tidak, biasanya meugang diawali dengan berbondong-bondong Masyarakat Aceh beli daging. Sebab, salah satu essensi meugang adalah menyantap masakan daging disetiap rumah. Ada adagium, tidak ada masak daging berarti tidak ada meugang.
Pengalaman selama ini, setiap meugang, hampir di seluruh sudut pasar-pasar di Aceh ada lapak penjual daging. Setiap lapak, pemandangan yang terlihat adalah orang-orang berdesakan.
Situasi seperti itu sangat mengkhawatirkan berkaitan dengan penyebaran virus korona. Bila tidak disiplin dengan langkah-langkah pencegahan korona, akan muncul cerita yang sangat mengerikan.
Apalagi, diperparah dengan masih adanya tabiat dari sebagian oran-orang kita yang "meremehkan" keadaan yang ada. Bahkan ada yang menganggap enteng, korona tidak apa-apa, meski sangat mematikan.
Kebiasaan lain setiap hari-hari meugang ada acara kumpul-kumpul. Bahkan, dikampung ada orang yang pulang dari luar Aceh. Karena, hari meugang, merasa tidak enak bila yang datang dari jauh tidak dijamu. Padahal, sebenarnya, mereka yang baru datang dari luar daerah apalagi dari daerah episentrun Korona (termasuk medan dan sekitarnya) harus melaksanakan isolasi mandiri selama 14 hari.
Namun demikian, meskipun harus merayakan meugang, masyarakat harus disiplin. Pertama, tetap menjaga jarak. Kedua, menghindari kerumunan. Ketiga, rajin cuci tangan dengan benar. Keempat, sebelum cuci tangan, tangan tak boleh menyentuh bagian muka. Karena, virus korona mudah terinveksi melalui bagian wajah. Kelima, terus menerus berdoa untuk dijauhkan dari segala mara bahaya.
Langkah Antisipatif Pemerintah Aceh
Selain ada kebijakan pemerintah Aceh melarang pegawainya pulang kampung.
Sebaiknya juga pemerintah Aceh membuat semacam SOP atau langkah-langkah yang jelas dan disampaikan kepada masyarakat saat meugang berlangsung tahun  ini termasuk tata cara penjualan daging meugang.
Sebab dapat dipastikan, akan ada lonjakan pembelian daging meugang di seluruh Aceh meskipun ditengah wabah korona.
Salah satu langkah antisipatif pemerintah  adalah dengan menurun aparat keamanan pada lapak penjualan daging, untuk mengatur, agar masyarakat disiplin menjaga jarak saat membeli daging meugang.
Begitu juga, sebaiknya, pemerintah dapat mendelegasikan kepada pemerintah Kecamatan atau Gampong untuk  menentapkan lokasi khusus yang luas tempat penjualan daging meugang.
Misalnya di lapangan  sepakbola atau lokasi luas lainnya yang mudah terjangkau.  Sehingga antar pedagang daging dapat diatur jarak sedemikian rupa menghindari penumpukan pembeli. 
Selama ini kita saksikan, saat meugang, antara penjual dan pembeli selalu berdesakan. Hal ini yang harus dihindari saat wabah korona.
Terakhir, alangkah lebih baik, bila Pemerintah Aceh dan Pemerintah Kabupaten/kota, untuk meugang tahun ini,  memborong semua daging dari pedagang yang kemudian  mengantar ke rumah-rumah warga paling kurang 2 kg/KK untuk semua penduduk seantero Aceh. Saya yakin, cara ini paling ampuh juga menjaga masyarakat Aceh dari virus Korona saat Meugang menyambut Puasa. Wallahu Ta'ala 'Alam
Alkisah, orang-orang yang di Aceh tidak ada satupun yang terinfeksi coronavirus disease (Covid-19). Kalau tidak percaya, saudara boleh cek satu persatu.
Tetapi, kenapa sudah ditemukan ada yang  positiv covid-19 bahkan ada yang meninggal di Aceh?. Nah, soalannya. Semua yang sudah terinfeksi korona itu adalah orang-orang Aceh yang pulang dari luar  atau orang luar yang datang ke Aceh. Bukan orang yang di Aceh yang tak  kemana-mana terinfeksi korona.
Sekarang, yang menurut saya kurang "srek" kalau tidak boleh dibilang gila adalah orang di Aceh yang tak pernah kemana-mana justru seolah-olah dihukum.
Selama ditemukannya yang positif korona di Aceh yang kebanyakan tidak kemana-mana dibatasi aktivitasnya. Tidak boleh ke warung kopi padahal ini sudah menjadi Trade Mark orang Aceh, tidak boleh lagi ngumpul bareng-bareng lagi. Tidak boleh ke Mesjid berjamaah (ini bukan kajian fiqh saat darurat ya) padahal Aceh adalah negeri syariat. Bahkan, terakhir diberlakukan jam malam. Bagi orang yang menikmati Aceh selama ini, situasi seperti saat ini atau dengan istilah distancing Social dirasakan sebagai sebuah hukuman. Padahal orang- orang yang di Aceh yang tidak kemana-mana tidak salah apa-apa.
Padahal yang semestinya kena sanksi atau hukuman itu adalah orang Aceh yang pulang ke Aceh atau orang luar datang ke Aceh, apakah dia pembisnis, pelancong atau bahkan majelis ta'lim. Apalagi pernah singgah didaerah episentrum covid-19.
Padahal bila orang-orang seperti ini apalagi mereka jelas-jelas baru pulang dari daerah episentrum korona yang diperlakukan khusus (jika tak boleh dibilang sanksi atau hukuman) itu akan lebih gampang memutus rantai penyebaran korona.
Misalnya, Aceh cuma satu Bandara, dari awal semestinya dibatasi. Saat penumpang turun, mereka itu diperintahkan dengan cara keras tak boleh ke warung kopi, mereka ini tak boleh ngumpul, pokok dibatasi diam di rumah selama 14 hari.
Bisa jadi, mereka ini beri label, apakah seperti gelang yang tak mudah dilepaskan, sehingga masyarakat lain atau orang- orang kampung atau pak geuchik dan aparat gampong tahu kalau mereka ini tak boleh didekati dulu dan aktivitasnya dibatasi. Biar orang tahu pemda mengumumkan bahwa yang tanda itu tak boleh didekati dulu sebelum diyakini dia tak kena covid-19.
Begitu pula perlakuan yang sama bagi mereka yang pulang dengan Bus atau L-300 (pasti yang dengan Bus/L-300 itu umumnya pulang dari medan) baik  jalur timur maupun jalur barat.
Pada saat yang sangat ekstrem seperti saat ini, mereka yang turun dari Pesawat langsung semuanya wajib dibawa ke tempat penampungan sementara yang disediakan pemda. Sesampai ditempat tersebut, apakah teridentifikasi atau tidak bila mrk mereka mau pulang harus bersumpah dengan lafaz Demi Allah mau melakukan isolasi diri. Kalau terlihat main- main seperti tidak mau karantina mandiri, dengan segala konsekwensi aparat atau petugas wajib menahan mereka utk dikarantina massal.
Sehingga dengan demikian jelas mana yang berpotensi terinfeksi dan mana yang tidak.
Apa yang kita rasakan saat ini, seperti kita berada di hutan belantara. Kita tidak tahu siapa yang sudah bersentuhan dengan yang berpotensi terinfeksi dan tidak tahu siapa yang memang sudah terinfeksi. Karena yang berpotensi tidak dipisahkan atau ditandai. Padahal bila yang berpotensi terinfeksi diidentifikasi, situasi seperti saat ini bisa dihindari.
Kenapa ini tidak dilakukan? Karena mereka-mereka (jangan besar- besar dibaca/sir) tidak cerdas membaca situasi atau malas berpikir, meski penampilan parlente).
Akibatnya, maka muncullah kebijakan yang seperti saat ini. Orang-orang di Aceh, yang tidak kemana-mana, tidak salah apa-apa, yang sehari-hari,  kiri kanan cari nafkah, seolah-olah diberi perlakuan seperti orang bersalah (bila tak boleh dikatakan diberi sanksi atau hukuman).
Tapi mau bilang apa? Kalau pengambil kebijakan kadarnya terbatas. "Anggota Dewan juga Taheu mantong" alias diam tidak bersuara.

Resent Post

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Cari Blog Ini

Join Us

Setiap Tulisan yang Ingin diambil atau dicopy di Blog ini Sangat Etis Bila diberi tahu. Diberdayakan oleh Blogger.

Video

Popular Posts

Video of Day

Our Facebook Page

  • Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit.
  • Aliquam tincidunt mauris eu risus.
  • Vestibulum auctor dapibus neque.

Find us on Facebook

Our Facebook Page

About

News

Opinium