Selasa, 28 November 2017

Guru merupakan salah satu komponen masyarakat yang memiliki  tugas mengajar dan mendidik anak bangsa. Karena tugas mulia ini banyak masyarakat sangat mengharapkan guru dapat bekerja secara profesional.

Harapan Masyarakat yang cukup besar itu dapat dipahami karena guru merupakan garda terdepan dalam memajukan pendidikan. Bila suatu bangsa pendidikannya maju, maka  dapat dipastikan negara tersebut berada pada jajaran negara maju.

Begitu pentingnya pendidikan, maka ekspektasi masyarakat juga  besar terhadap ujung tombaknya untuk lebih fokus dalam menjalankan tugasnya. Sehingga harapan pendidikan maju akan lebih cepat tercapai.

Awal November saya dan beberapa teman di komplek tempat tinggal berinisiatif mengajak warga bergotong royong membersihkan lingkungan. Alasannya, pertama, sudah lama tidak mengadakan gotong royong, sehingga perlu dimulai kembali.  Terutama untuk memperindah tempat tinggal apalagi sudah mulai musim penghujan sehingga lingkungan perlu dibersihkan terutama got (saluran air) yang sudah banyak tersumbat.

Kedua, biasanya bila musim penghujan warga terutama anak-anak rentan kena penyakit maka demi kesehatan warga sendiri lingkungan perlu dibersihkan terutama tempat-tempat genangan air. Takut akan berkembangan biak nyamuk yang menyebabkan deman berdarah.

Senin, 27 November 2017

Pada hakikatnya guru adalah sosok yang bukan hanya mampu berperan sebagai pengajar tetapi juga sebagai pembimbing dan pendidik. Sebab, betapa banyak guru dalam sebuah lembaga pendidikan misalnya, tetapi hanya beberapa orang saja yang sering ditanyakan kembali atau dikenang oleh murid-muridnya.

Kenapa demikian? Pertanyaannya terkadang sangat sulit dijawab. Sebab, ada guru yang secara kasat mata tidak ada yang lebih, kelihatan biasa-biasa saja. Tetapi sangat dihormati oleh murid-muridnya.
Karena itu tidak heran bila berjumpa dengan teman-teman sekolah, baik teman semasa SD, SMP dan SMA dalam mengenai nostalgia di sekolah pasti akan terselip sebuah pertanyaan tentang guru yang tak pernah hilang dalam ingatan. Setiap jenjang sekolah tetap ada guru-guru yang kita rasakan beda.

Sabtu, 25 November 2017

Semakin canggih perkembangan ilmu pengetahuan teknologi dan informasi semakin mempengaruhi proses pendidikan di lembaga-lembaga pendidikan. Pengaruh itu ada yang berdampak baik dan juga ada yang berdampak kurang baik atau malah buruk. Dampak tersebut langsung pada kerja guru.

Dampak baik dari perkembangan teknologi dan informasi misalnya saat awalnya munculnya komputer. Kemunculan komputer dapat dikatakan seperti era revolusi prancis. Komputer sangat membantu guru terutama membuat persiapan sebelum proses belajar mengajar berlangsung.

Jumat, 24 November 2017

Seorang teman menyakan itu pada saya. Bagaimana untuk tidak merokok. Sepertinya teman saya ini punya keinginan untuk tidak merokok lagi. Secara spontan saya menjawab, ya jangan merokok. Karena saya tidak punya pilihan kata-kata lain yang lebih tepat untuk menjawab pertanyaan saya itu. Sebab menurut saya sangat sederhana: Untuk tidak merokok ya..jangan merokok. Tetapi saya jawaban saya itu tidak menggena bagi teman saya itu. Sebab tidak sampai satu jam , dia sudah merokok lagi.
Merokok sepertinya bukan hanya sekedar trend di Indonesia tetapi telah menjadi budaya bagi sebagian masayarakatnya. Merokok telah menjadi lambang pergaulan, life style, dan dari merek rokok yang dihisap terindentifikasi merokok sudah menjadi identitas status para penghisapnya. Jadi merokok sangat sulit untuk dapat dihilangkan. Kalau solusinya seperti yang saya berikan kepada teman saya tadi, itu belum menjadi solusi yang tepat harus ada tindakan lain yanglebih menggena. Sebab kalau hanya sekedar mengatakan tidak usah merokok semua orang tahu, ya untuk tidak merokok tentu tidak usah merokok.

Kamis, 23 November 2017

Pendidikan merupakan satu-satunya cara untuk mencerdaskan anak bangsa. Melalui pendidikan, anak bangsa dididik untuk mengetahui dirinya sendiri dan bangsanya serta mampu memajukan bangsa ke strata yang tinggi. Melalui pendidikan bangsa ini bisa bangkit dari keterpurukan dan diperhitungkan di mata negara lain  

Selain itu, melalui pendidikan yang diperoleh anak bangsa mampu meningkat kesejahteraan dirinya pribadi dan membawa kemakmuran dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Maka dengan demikian, permasalahan yang dihadapi bangsa ini dapat diperoleh solusinya.

Namun, melihat kondisi dan situasi bangsa selama ini sepertinya solusi yang diharapkan belum ada sebagai mana mestinya. Masalah klasik seperti lapangan pekerjaan, tenaga skill, pengangguran, emosional dan lain sebagainya belum ada kemajuan sebagaimana yang diharapkan.
Secara geografis, topografi, fisologis dan sosiologis masyarakat, maka sistem demokrasi Indonesia memilih sistem multi partai politik. Sistem ini, memunculkan banyak partai politik dengan berbagai macam ragam platform yang ditawarkan. Ada parpol yang mengusung nasionalisme total, ada yang mengusung nasionalisme religius dan atau bahkan ada partai politik yang hanya berbasis religiusitas (keagamaan).

Terserah kemudian rakyat memilih wakilnya dari partai politik yang mana. Apakah yang mengusung partai politik dengan platform nasionalisme total, nasionalisme religiusita atau memang memilih partai yang mengusung platform religiusitas total.

Berdasarkan UU tentang pemilu terbaru, maka sejumlah partai politik tidak sertamerta dapat bertahan dan dapat menentukan siapakah pemimpin (Presiden). Karena dalam undang- undang tersebut sudah diatur ambang batas pemilih. Bila ambang batas tidak tercapai bahkan Partai Politik tersebut tidak bisa berbuat apa-apa dan tidak bisa mewakili konstituen yang memilihnya.

Tetapi itu bukan masalah yang penting yang harus diperhatikan oleh konstituen atau pemilih. Bila partai-partai yang ada sudah memenuhi syarat dan sudah disahkan oleh KPU sebagai peserta pemilu. Tugas konstituen mencermati secara seksaama siapa-siapa kadernya.
Kenapa ini harus ditilik secara seksama, karena tidak ada satu pun partai yang mampu menjamin 100% kadernya baik tanpa cacat. Begitu pula tidak semua kader yang diusung buruk tidak ada baiknya.

Karenanya perlu kehati-hatian bagi konstituen pemilih. Secara relaita, memang ada kader partai yang bermental “penyamun”.

Sebenar tidak terlalu sulit mengetahui kader partai yang bermental “penyamun”. Apalagi mereka adalah orang-orang yang memang berada di sekitar kita atau selalu bermain di ranah publik. Maka dari itu dapat dibedakan mana bermental “penyamun” atau tidak.

Pertama, lihatlah kehidupan sehari-harinya. Apakah kader yang ada memiliki kepekaan yang tinggi terhadap segala masalah dalam masyarakat. Apakah yang bersangkutan selalu mengutamakan kepentingan umum  dari pada kepentingan pribadi. Bila cenderung mengutamakan kepentingan pribadi ini perlu dievaluasi terlebih dahulu.

Kedua, apakah yang bersangkutan jauh-jauh hari memiliki sifat ketokohan yang tidak dibuat-buat?. Sebab fakta memperlihatkan banyak sekali tokoh yang muncul secara instan. Atau menokoh-nokohkan diri dimana sebelumnya tidak peduli apa-apa.

Ketiga, apakah yang bersangkutan adalah kader yang suka berjanji. Tetapi kemudian ketika janji ditagih ada-ada saja alasannya.

Keempat, cermatilah gaya hidup selama ini. Apakah yang bersangkutan gaya hidup berlebihan dengan kemampuannya. Bila berlebihan, berarti yang bersangkutan perlu dicurigai.

Kelima, kehidupan dalam keluarga juga perlu menjadi pertimbangan. Selama ini salah satu penyebab seseorang terjerumus katakanlah menjadi bermental “penyamun” adalah faktor keluarga. Bila kader partai itu laki-laki atau seorang suami maka kadang tuntutan Isteri yang terlalu berlebihan membuat yang bersangkutan mengambil jalan pintas.

Keenam, apakah kader atau caleg itu untuk memperoleh kesempatannya membayar atau membeli atau menyogok atau banyak mengeluarkan modal? Tentu saja, dapat dipahami tujuan utamanya adalah mengembalikan modal  terlebih dahulu. Bila, mungkin tidak bisa mengembalikannya dengan cara halal. Tentu saja akan digunakan fasilitasnya itu dengan segala cara agar modal kembali.

Ketujuh, juga perlu diperhatikan apakah kader itu memiliki banyak utang? Atau apakah paling kurang memiliki pinjaman di bank? Bila ada, dipikir terlebih dahulu sebelum dipilih.

Sarang “Penyamun”

Nah, bagaimana dengan partai-partai yang memang merupakan kenderaan politik seseorang? Apakah ada di antara kader-kader partai berindikasi seperti yang kita uraiankan itu?

Bila ada, sebaiknya para pengurus partai atau simpatisannya perlu baerhati-hati dan kalau bisa terus bertindak untuk menyelamatkan partainya. Perlu diingat, kader partai yang punya orientasi sebagai “penyamun” pasti punya agenda terselubung yaitu menggunakan partai politik untuk kepentingan pribadinya semata.

Hal itu tidak boleh diberi peluang sedikit pun. Mengingat tujuan utama didirikan partai adalah untuk mencapai tujuan bersama yang berlandaskan platform partai. Meskipun kemudian, yang bersangkutan menjadi Presiden, Gubernur, Bupati atau pimpinan lembaga lain, semuanya itu dijalankan untuk mencapai tujuan partai dan untuk kepentingan rakyat yang lebih banyak. Tidak bisa dinafikan bahwa rakyat penentukan hilang atau tidaknya sebuah partai poilitik. Bila rakyat meninggalkan partai politik maka dengan sendiri partai tersebut tamat.

Namun, melihat realitas sekarang, banyak partai politik, baik tingkat nasional sampai tingkat ranting selalu dianggap punya masalah. Tentukan saja ini semua akibat ulah oknumnya yang menggunakan partai politik untuk kepentingan dan memperkaya pribadi.

Bila ada partai politik yang kadernya banyak seperti itu maka dapat dikatakan bahwa partai tersebut sebagai tempat bersarangnya “penyamun”.

Bagaimana mengidentifikasi bahwa sebuah partai politik adalah sarang penyamun? Caranya paling mudah diantaranya:

Pertama, seberapa banyak kader yang menjadi anggota parlemen hanya diam dan duduk saja dan tidak beerbuat apa-apa kepada kemajuan dan kesejahtearaan bangsa atau paling kurrang untuk konstituennya saja.

Kedua, tidak bertindak untuk kepentingan rakyat umum tetapi hanya melihat kepentingan partai saja. Bila ada dua pilihan antara kepentingan rakyat dan bangsa dengan kepentingan partai dan pribadinga, yang bersangkutan selalu memilih pilihan kedua.

Ketiga, hitung saja berapa banyak oknum kadernya mulai dari daerah sampai nasional yang dipanggil KPK dan kemudian jadi tersangka dan narapidana.


Perlu dicatat, bila masih banyak oknum kader partai politik  zaman now seperti itu. Maka kita khawatirkan, negara yang kita cintai ini sulit keluar dari keterpurukan. Oleh karena itu partai perlu mencari kader yang super berintegritas. Mereka yang tidak punya komitmen lenyapkan saja ke perut bumi biar tidak ada yang mengikuti jejaknya. 

Selasa, 21 November 2017

Dulu ketika sekolah banyak teman-teman yangbilang: “Cobalah merokok satu batang”. Tapi, karena Bapak saya selalu bilang: “Kamu jangan coba-coba merokok”.Maka saya menolak untuk merokok saat itu. “Maaf, saya tidak mau merokok, ‘ kata saya. Lalu teman saya bilang: “Alaaah……,” Saya hanya tersenyum saja. Sementara teman saya melanjutkan kebiasaan buruknya, di sebuah kantin depan sekolah.
----

Sabtu, 18 November 2017

Mungkin masih ingat peristiwa seorang dokter (tidak disebutkan kembali namanya di sini) yang membunuh isterinya hingga tewas beberapa waktu lalu?. Konon, sang dokter yang membunuh isterinya (yang juga berprofesi sebagai seorang dokter) menggunakan senjata api, dengan jarak tembakan tidak terlalu jauh (baca: dekat). Sebagaimana diberitakan sang Isteri seketika menghembuskan nafas penghabisan.

Pembunuhan apalagi pembunuhan berencana adalah kejahatan yang paling bejat diantara kejatahatan-kejahatan yang lain di dunia ini. Mereka ini, telah bertindak di atas kepatutan dan kewajaran. Apalagi yang melakukannya adalah orang-orang yang terdidik.

Jumat, 17 November 2017

Pernikahan atau perkawinan adalah peristiwa yang teramat sangat sakral bagi manusia yang menjunjung tinggi kehidupan berkeluarga. Dalam Islam, pernikahan, secara syar’i adalah ibadah; dan secara ma’nawi merupakan penyatuan dua potensi fitrah yang berbeda untuk diikat dan dihimpun dalam kebersamaan sebagai wujud kecintaan dan pelaksanaan ketaatan kepada Allah swt dan Rasul-Nya.
Bahkan dipahami bahwa pernikahan adalah sebuah amanah langsung dari Allah dan RasulNya, dan setiap amanat menuntut tanggung jawab. Betapa luar biasanya aqad nikah ini, dengan adanya aqad nikah, perbuatan yang semula diharamkan menjadi halal, perbuatan yang semula bernilai maksiyat, berubah menjadi ibadah.

Kamis, 16 November 2017

Cerita ini saya dengar dalam sebuah khutbah Jumat kira-kira pada hari Jumat pada akhir bulan Maret 2013. Terus terang, saya tidak ingat siapa nama yang menjadi khatib hari itu. Tetapi yang jelas, khatib kelihatan seorang akademisi, umurnya kira-kira 50-an dan dalam pengantar khotbahnya beliau sudah 20 tahun tinggal dan belajar di sana. Inti khotbahnya berkaitan dengan pendidikan. Beliau lebih menyoroti bagaimana perkembangan pendidikan di Australia dimana disana muslim adalah minoritas.
Salah satu poin dalam khotbah yang masih sangat saya ingat adalah saat dia mencerita bagaimana memanfaatkan teknologi yang ada saat ini untuk pendidikan agama Islam. Lantas dia bercerita, ada seorang muslim turunan Jepang sesama Jamaah disana. Kebetulan, temannya ini memiliki anak kecil berumur tiga atau empat tahun. Setiap waktu sholat dia bawa ke tempat sholat (suatu bangunan sebagai tempat berkumpul minoritas muslim disana). Anak kecil tersebutlah sudah bisa hafal quran sampai 5 juz.

Rabu, 15 November 2017

“Buku adalah gudang ilmu sedangkan membaca adalah kuncinya”. Ungkapan tersebut memiliki makna bahwa untuk memperoleh ilmu dari buku satu-satunya cara adalah dengan membaca. Tidak mungkin, buku yang ada di pustaka sekolah, pustaka daerah atau bahkan pustaka yang sengaja kita buat di rumah mampu secara otomatis mentransferkan ilmu kepada kita tanpa membacanya.
Karena itu, para guru di sekolah-sekolah selalu memberi motivasi kepada murid atau siswanya dengan mengatakan bahwa siapa yang banyak membaca buku maka orang itu akan menguasai dunia. Memang seperti itulah kenyataannya. Negara-negara maju di duniasaat ini adalah negara-negara di mana rakyatnya paling suka membaca buku.
Bagi setiap orang tua, anak adalah anugerah yang sangat bernilai dan tidak bisa dimisalkan dengan apapun. Hampir semua pasangan suami isteri memperlihatkan wajah sumringah ketika mereka diberikan kepercayaan memperoleh anak. Bukan hanya saat seorang isteri melahirkan saja namun jauh sebelumnya saat seorang isteri mengandung anak mereka rasa kegemberiaan itu selalu terlihat di wajah-wajah mereka. Bahkan terkadang ada orang tua yang tidak sabar menunggu agar buah hati mereka cepat-cepat lahir. Begitulah yang terjadi.
Seiring dengan perputaran waktu, anak lahir dan pasti seorang anak terus berkembang. Pada fase-fase awal atau pada tahap menyusui, anak tidak bisa lepas dari ibu yang telah melahirkan. Seorang Ibu tidak peduli apakah tengah malam saat mata sangat mengantuk tetapi ketika anaknya haus dengan rasa ikhlas yang tinggi tetap terjaga dan memberi susu (ASI). Semua yang dilakukan pasti karena rasa cinta yang mendalam kepada anaknya. Bila anak menyusui selama dua tahun. Maka selama dua tahun itulah peran Ibu sangat dominan terhadap anaknya.

Sebagai seorang anak, tentu ada peristiwa-peristiwa tertentu dalam hidup yang membuat orang tua terutama Ibu tersakiti. Bahkan saat  baru saja mengenal dunia sudah mulai membuat hati ibu gusar. Kemudian, saat ego mendominasi akal sehat, sungguh banyak peristiwa yang terkadang membuat ibu menggaruk dada.
Ketika ada anak dewasa menggugat  ibunya memperkarakan ibunya karena harta, memencarakan mereka, menenda miliaran rupiah bahkan ada yang mengusir dari rumah mereka sendiri.  Belum lagi ada yang ingin membunuh karena ingin menguasai harta warisan.
Begitulah gambaran yang sempat terlihat dan secara terang-terangan memperlihat konflik yang tajam yang membuat ibu tersakiti. Belum lagi peristiwa-peristiwa lain misalnya membuang ibunya ke panti jumpo. Memperlakukan tidak manusia karena sudah tua dan dianggap beban.
Peristiwa-peristiswa miris itu memperlihatkan perbedaan antara ibu dan anak. Padahal pada hakekatnya, anak adalah seorang makhluk hidup yang lahir dari rahim seorang ibu.  Sebelum lahir, selama Sembilan bulan seorang anak hidup dalam perut sang ibu. Ibu membawanya ke mana-mana. Menahan rasa sakit yang tak terhingga sampai ada sebagian ibu yang tidak bisa ke mana-mana bahkan hanya sekedar bangkit dari tempat tidur. Ketika ibu makan, tidak semua makanan untuk dirinya, tetapi sebagian sari makanan yang ibu asup terbagi kepada anaknya yang masih sangat teramat lemah dalam kandungan.
Apakah ibu mendendam dengan segala perlakuan yang tidak baik kepada mereka. Sama sekali tidak. Karena seorang ibu bukanlah pendedam. Mereka pasti akan memaafkan anak-anaknya meskipun perlakukan mereka tidak seperti yang diharapkan.
Mungkin, kadang mereka tak pernah mampu melawan kuasa.  Lalu muncul sepah serapah kepada anak-anak yang tidak mampu melihat kenyataan bahwa dia adalah seorang ibu. Tetapi selebihnya, para ibu-ibu yang kita cintai itu, disudut malam, saat dia sendirian, pasti matanya memerah menangis dan berdoa semoga anak-anaknya selalu berada pada jalan yang benar. Mengharapkan anak-anaknya selalu sukses dunia akhirat meskipun dia tidak pernah mengharapkan balasannya. Semuanya untuk anak.
(Selalu tak terlupakan, ketika memohon maaf dan menyalami ibu. Ibu selalu bilang: Ibu selalu memaafkan mu).
Oleh Djamaluddin Husita
Keresahan selalu muncul dalam hati akibat gesekan dari sebuah fenomena yang dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Karena menyangkut hati, maka keresahan sangatlah eklusif bagi seseorang. Muncul dari pengalaman batin seseorang.
Banyak yang melihat keresahan itu dari sisi negatifnya sehingga yang muncul adalah keluhan-keluhan. Sering kita mendengar: “Saya sangat resah hari ini”. Seolah-olah ada beban yang luar biasa sedang menimpa dirinya. Tetapi begitulah yang sering kita rasakan. Padahal, sesungguhnya keresahan itu muncul karena ketidakmampuan kita untuk mengetahui solusi-solusi dengan pasti dan menyakinkan yang ada dan kita rasakan.

Oleh Djamaluddin Husita

Semua orang tua pasti punya harapan dan keinginan yang cukup yang cukup besar agar anaknya kelak menjadi orang yang berhasil dan berguna di dalam masyarakat sehingga menjadi kebanggaan keluarga. Karena keinginan itu banyak orang tua yang memaksakan kehendaknya agar anak menjadi ini dan itu sesuai dengan apa yang diharapkan. Pada pandangan orang tua seperti itu sebenarnya apa yang dilakukannya itu adalah bentuk kasih sayang yang diberikan. Mereka was-was dan takut masa depan 

anaknya tidak menentu. Kejadian seperti itu tidak jarang terjadi konflik antara orang tua dan anak.
Sebenarnya menjadi orang tua saat ini tidak perlu memperlakukan anak seperti itu lagi. Tetapi bukan berarti orang tua tidak boleh ikut campur terhadap perkembangan anaknya. Tanggungjawab orang tua tetap saja diperlukan dalam rangka mengarahkan anak kearah yang lebih baik sesuai dengan norma-norma yang berlaku. Dalam hal ini orang tua perlu memberi frame yang jelas sebagi cerminan atau pedoman anak dalam menentukan arah hidupnya yang lebih baik.

Selasa, 14 November 2017

LGBT bukanlah prilaku yang diturunkan karena faktor keturunan atau seperti yg diklaim oleh kaum tersebut. Tetapi LGBT adalah penyakit kelainan orientasi seksualitas. Namun kelompok dan pendukung LGBT terus berkampanye bahwa penyakit kelainan orientasi seksualitas itu bukan penyakit tetapi sesuatu ciptaan Tuhan. Sehingga, mereka dapat mengklaim bahwa prilaku tersebut merupakan hak asasi yang harus dilindungi. Karena alasan itu maka kaum LGBT saat ini mati-matian berjuang agar eksistensi mereka diperhitungkan dan diakui.
Bagi kita yang tidak mengindap penyakit disorientasi seksualitas tidak boleh tertipu oleh propaganda kaum LGBT atau para penyokong mereka. Apalagi sebagai umat yang beragama, cerita semacam LGBT itu bukanlah cerita saat ini saja. Cerita kaum Luth, pada hakekatnya dapat menjadi pelajaran bagi kita semua.
Jam menunjukkan pukul 16.05 menit, azan sudah berkumandang sejak dlm perjalanan pulang ke rumah. Karena mau bepergian agak jauh yg membutuh waktu kurang lebih 3 jam perjalanan dan nyetir sendiri maka sesampai di rumah dg agak tergopoh-gopoh saya buka jam, cincin lalu saya taruh sekenanya di atas meja. Kemudian saya bergegas wudhuk dan terus shalat. Habis shalat, tanpa lihat kiri kanan langsung tancap gas. Ahli baiti yang lain sudah dari tadi menunggu komando berangkat.
Sekitar 1 jam perjalanan baru terasa ada sesuaru yg hilang. Ternyata memang, jam dan cincin yg selalu saya pakai tertinggal. Saya sampaikan kepada para Ahli Jannati tentang kelupaan itu. "Ah, biarlah..." begitu kira-kira yg terlintas dlm fikiran. Maka melajulah dan Alhamdulillah sampai sesuai rencana.
----------------------

Resent Post

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Cari Blog Ini

Join Us

Setiap Tulisan yang Ingin diambil atau dicopy di Blog ini Sangat Etis Bila diberi tahu. Diberdayakan oleh Blogger.

Video

Popular Posts

Video of Day

Our Facebook Page

  • Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit.
  • Aliquam tincidunt mauris eu risus.
  • Vestibulum auctor dapibus neque.

Find us on Facebook

Our Facebook Page

About

News

Opinium