Menjadikan Dayah
sebagai Kiblat Pendidikan Islam Tanpa Kekerasan
Oleh:
Djamaluddin Husita
Sekitar satu tahun yang
lalu, Pemerintah Aceh melalui Dinas Pendidikan Dayah meluncurkan program “Kick
Off Stop Kekerasan di Dayah” pada 12 Agustus 2024, langkah tersebut menjadi
momentum penting dalam mempertegas wajah pendidikan Islam di Aceh yang beradab
dan penuh kasih sayang. Program ini bukanlah bentuk tudingan bahwa kekerasan
telah menjadi budaya di dayah, melainkan panggilan moral agar pendidikan Islam
senantiasa menghadirkan wajah lembutnya: mengasuh, bukan menakutkan;
membimbing, bukan menghukum. Inisiatif ini menjadi pengingat bahwa pendidikan
yang berakar pada nilai-nilai Qur’ani harus terus menjaga fitrah kemanusiaan.
Dayah sejak masa lalu
telah menjadi benteng peradaban Islam di Aceh. Di bilik-bilik pengajian yang
sederhana, para ulama menyalakan pelita ilmu dan akhlak bagi generasi muda.
Dari lingkungan ini lahir tokoh-tokoh yang membawa nilai-nilai Qur’ani ke
tengah masyarakat. Tradisi menghormati guru, kesungguhan dalam menuntut ilmu,
serta kesederhanaan hidup dalam kebersamaan telah menjadi ciri khas pendidikan
Islam di Tanah Rencong. Karena itu, setiap upaya pembenahan dalam sistem
pengasuhan bukanlah bentuk kritik terhadap tradisi, melainkan langkah
memperkokoh fondasinya agar tetap sejalan dengan dinamika zaman.
Islam tidak pernah
menempatkan kekerasan sebagai jalan pendidikan. Rasulullah SAW selalu
menunjukkan kelembutan dan kebijaksanaan dalam membimbing umatnya. Dalam Surah
Ali Imran ayat 159, Allah menegaskan bahwa keberhasilan Nabi dalam mendidik
umat berawal dari kelembutannya; seandainya beliau bersikap keras dan berhati
kasar, tentu banyak orang akan menjauh. Nilai ini menegaskan bahwa kasih sayang
adalah ruh dari setiap proses pendidikan. Dalam konteks dayah, prinsip
kelembutan itu seharusnya menjadi dasar dalam mendidik dan membina para santri.
Terkadang,
“teguran keras” di lembaga Pendidikan kerap terjadi tetapi bukan karena adanya
niat menyakiti, melainkan karena sebagian pihak belum sepenuhnya memahami
konsep pembelajaran yang berorientasi pada kasih sayang dan pembinaan diri. Di
era modern ini, pendekatan disiplin sebaiknya dikemas secara lebih manusiawi
dan partisipatif. Teguran dapat diubah menjadi bimbingan yang memberi ruang
bagi santri untuk merefleksikan diri. Dengan demikian, proses pembinaan tidak
menimbulkan luka batin, melainkan menumbuhkan kesadaran untuk memperbaiki diri
dengan kemauan sendiri.
Lingkungan
belajar yang dibangun atas dasar kasih sayang dan penghargaan akan menumbuhkan
rasa aman serta kepercayaan diri santri. Mereka menjadi lebih terbuka
untuk berdialog, berani mengakui kesalahan, dan menghargai perbedaan. Disiplin
yang tumbuh dari kesadaran moral jauh lebih kokoh dibandingkan dengan disiplin
yang dibentuk karena rasa takut. Pendidikan yang berlandaskan kasih sayang
melahirkan kepatuhan yang tulus, bukan kepatuhan karena tekanan.
Sebagai pengurus dan
kepala madrasah aliyah di salah satu dayah, saya meyakini bahwa pendidikan
berbasis kasih sayang merupakan kunci pembentukan karakter. Ketegasan memang
tetap dibutuhkan, namun harus berjalan seiring dengan kelembutan. Ketika guru
menegur dengan hati, santri tidak merasa direndahkan, melainkan dibimbing
menuju kebaikan. Di situlah disiplin sejati tumbuh—bukan karena takut pada
hukuman, tetapi karena kesadaran diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Pendidikan yang ramah
tumbuh dari kerja sama erat antara pengasuh dan keluarga. Sebagai lembaga
pendidikan Islam, dayah memiliki tradisi kebersamaan dan solidaritas yang kuat.
Nilai tersebut akan semakin bermakna bila diiringi dengan keterbukaan dan
kolaborasi antara kedua belah pihak. Keterbukaan merupakan sikap yang sangat
penting, meskipun dalam praktiknya masih ada kehati-hatian dari sebagian pihak
yang khawatir “rahasia dapur terbuka.” Padahal, sejatinya keterbukaan terhadap
saran maupun kritik yang disampaikan dengan niat baik mencerminkan kedewasaan
dan rasa tanggung jawab dalam mengemban amanah pendidikan. Komunikasi yang
jujur dan terbuka, kunjungan rutin dari keluarga, serta dukungan emosional yang
tulus dapat menumbuhkan rasa aman dan percaya diri pada diri santri. Ketika
santri merasa diperhatikan, mereka lebih berani mengungkapkan pendapat dan
mencari solusi saat menghadapi kesulitan. Karena itu, keterlibatan aktif orang
tua dalam forum dayah menjadi jembatan penting untuk menjaga suasana pendidikan
yang sehat, saling percaya, dan penuh kekeluargaan.
Di tingkat lembaga,
pengawasan dan regulasi yang bersifat mendidik perlu terus diperkuat. Dayah
hendaknya memiliki mekanisme penanganan masalah santri yang berfokus pada pembinaan,
bukan penghukuman. Para guru dan pengasuh berperan sebagai teladan yang
menanamkan disiplin dengan kasih, bukan dengan kemarahan. Ketika para senior
menunjukkan tanggung jawab dan ketulusan, para junior pun akan meneladani hal
serupa dengan bangga.
Selain itu, layanan
bimbingan konseling di dayah perlu ditingkatkan agar menjadi ruang aman bagi
santri untuk berbagi persoalan tanpa rasa takut. Guru dan pengasuh perlu
dibekali pemahaman dasar tentang psikologi remaja, sehingga mereka dapat
menghadapi setiap permasalahan dengan bijak dan penuh empati. Dengan cara ini,
setiap masalah tidak lagi dianggap sebagai kesalahan, melainkan kesempatan
untuk belajar dan tumbuh bersama.
Kegiatan sosial dan
pembelajaran kolaboratif dapat menjadi sarana efektif untuk menumbuhkan empati
dan solidaritas antarsantri. Melalui musyawarah, gotong royong, dan kegiatan
pengabdian masyarakat, para santri belajar menerapkan nilai-nilai akhlak dalam
kehidupan nyata. Pengalaman semacam ini membentuk pribadi yang sabar, toleran, dan
mampu menyelesaikan perbedaan dengan cara damai.
Pemerintah dan
masyarakat juga memiliki peran penting dalam memperkuat gerakan pendidikan
tanpa kekerasan. Dukungan kebijakan, pelatihan etika, dan sosialisasi
anti-perundungan perlu dilanjutkan secara berkesinambungan. Kolaborasi lintas
pihak akan memperkuat ekosistem pendidikan yang manusiawi dan berkeadaban di
lingkungan dayah.
Kurikulum dayah
sebaiknya terus diperbarui dengan menanamkan nilai empati, tanggung jawab, dan
kepemimpinan berakhlak. Pelajaran agama seperti fikih dan akhlak dapat
dikaitkan dengan praktik kehidupan sehari-hari, agar santri memahami bahwa ilmu
bukan sekadar hafalan, melainkan pedoman untuk diamalkan. Dengan pendekatan
demikian, dayah akan melahirkan generasi santun, berwawasan luas, dan siap
membawa Islam yang damai ke tengah masyarakat.
Keteladanan guru dan
pengasuh merupakan fondasi utama keberhasilan pendidikan. Santri belajar bukan
hanya dari apa yang didengar, tetapi juga dari apa yang mereka lihat setiap
hari. Ketika guru menunjukkan kesabaran, kejujuran, dan kedisiplinan,
nilai-nilai itu akan tertanam dalam diri santri. Lingkungan yang sarat
keteladanan akan melahirkan budaya disiplin yang menenteramkan, bukan
menakutkan.
Menjadikan dayah
sebagai kiblat pendidikan Islam tanpa kekerasan bukan sekadar cita-cita,
melainkan tanggung jawab bersama. Dengan komitmen pengasuh, guru, santri, orang
tua, dan pemerintah, dayah akan terus memancarkan cahaya ilmu dan akhlak bagi
umat. Dari ruang-ruang pengajian yang dipenuhi doa inilah akan tumbuh generasi
berilmu, berkarakter, dan siap membawa nilai-nilai Islam yang damai ke tengah
kehidupan masyarakat.
Penulis adalah Salah seorang Pengurus dan Kepala
Madrasah Aliyah di Dayah Madrasah Ulumul Quran (MUQ) Pagar Air, Aceh.



0 komentar:
Posting Komentar