Senin, 17 November 2025

 

Menjadikan Dayah sebagai Kiblat Pendidikan Islam Tanpa Kekerasan

Oleh: Djamaluddin Husita


   

Sekitar satu tahun yang lalu, Pemerintah Aceh melalui Dinas Pendidikan Dayah meluncurkan program “Kick Off Stop Kekerasan di Dayah” pada 12 Agustus 2024, langkah tersebut menjadi momentum penting dalam mempertegas wajah pendidikan Islam di Aceh yang beradab dan penuh kasih sayang. Program ini bukanlah bentuk tudingan bahwa kekerasan telah menjadi budaya di dayah, melainkan panggilan moral agar pendidikan Islam senantiasa menghadirkan wajah lembutnya: mengasuh, bukan menakutkan; membimbing, bukan menghukum. Inisiatif ini menjadi pengingat bahwa pendidikan yang berakar pada nilai-nilai Qur’ani harus terus menjaga fitrah kemanusiaan.

Dayah sejak masa lalu telah menjadi benteng peradaban Islam di Aceh. Di bilik-bilik pengajian yang sederhana, para ulama menyalakan pelita ilmu dan akhlak bagi generasi muda. Dari lingkungan ini lahir tokoh-tokoh yang membawa nilai-nilai Qur’ani ke tengah masyarakat. Tradisi menghormati guru, kesungguhan dalam menuntut ilmu, serta kesederhanaan hidup dalam kebersamaan telah menjadi ciri khas pendidikan Islam di Tanah Rencong. Karena itu, setiap upaya pembenahan dalam sistem pengasuhan bukanlah bentuk kritik terhadap tradisi, melainkan langkah memperkokoh fondasinya agar tetap sejalan dengan dinamika zaman.

Islam tidak pernah menempatkan kekerasan sebagai jalan pendidikan. Rasulullah SAW selalu menunjukkan kelembutan dan kebijaksanaan dalam membimbing umatnya. Dalam Surah Ali Imran ayat 159, Allah menegaskan bahwa keberhasilan Nabi dalam mendidik umat berawal dari kelembutannya; seandainya beliau bersikap keras dan berhati kasar, tentu banyak orang akan menjauh. Nilai ini menegaskan bahwa kasih sayang adalah ruh dari setiap proses pendidikan. Dalam konteks dayah, prinsip kelembutan itu seharusnya menjadi dasar dalam mendidik dan membina para santri.

Terkadang, “teguran keras” di lembaga Pendidikan kerap terjadi tetapi bukan karena adanya niat menyakiti, melainkan karena sebagian pihak belum sepenuhnya memahami konsep pembelajaran yang berorientasi pada kasih sayang dan pembinaan diri. Di era modern ini, pendekatan disiplin sebaiknya dikemas secara lebih manusiawi dan partisipatif. Teguran dapat diubah menjadi bimbingan yang memberi ruang bagi santri untuk merefleksikan diri. Dengan demikian, proses pembinaan tidak menimbulkan luka batin, melainkan menumbuhkan kesadaran untuk memperbaiki diri dengan kemauan sendiri.

Lingkungan belajar yang dibangun atas dasar kasih sayang dan penghargaan akan menumbuhkan rasa aman serta kepercayaan diri santri. Mereka menjadi lebih terbuka untuk berdialog, berani mengakui kesalahan, dan menghargai perbedaan. Disiplin yang tumbuh dari kesadaran moral jauh lebih kokoh dibandingkan dengan disiplin yang dibentuk karena rasa takut. Pendidikan yang berlandaskan kasih sayang melahirkan kepatuhan yang tulus, bukan kepatuhan karena tekanan.

Sebagai pengurus dan kepala madrasah aliyah di salah satu dayah, saya meyakini bahwa pendidikan berbasis kasih sayang merupakan kunci pembentukan karakter. Ketegasan memang tetap dibutuhkan, namun harus berjalan seiring dengan kelembutan. Ketika guru menegur dengan hati, santri tidak merasa direndahkan, melainkan dibimbing menuju kebaikan. Di situlah disiplin sejati tumbuh—bukan karena takut pada hukuman, tetapi karena kesadaran diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

 Menghadirkan Lingkungan Dayah yang Aman dan Humanis

Pendidikan yang ramah tumbuh dari kerja sama erat antara pengasuh dan keluarga. Sebagai lembaga pendidikan Islam, dayah memiliki tradisi kebersamaan dan solidaritas yang kuat. Nilai tersebut akan semakin bermakna bila diiringi dengan keterbukaan dan kolaborasi antara kedua belah pihak. Keterbukaan merupakan sikap yang sangat penting, meskipun dalam praktiknya masih ada kehati-hatian dari sebagian pihak yang khawatir “rahasia dapur terbuka.” Padahal, sejatinya keterbukaan terhadap saran maupun kritik yang disampaikan dengan niat baik mencerminkan kedewasaan dan rasa tanggung jawab dalam mengemban amanah pendidikan. Komunikasi yang jujur dan terbuka, kunjungan rutin dari keluarga, serta dukungan emosional yang tulus dapat menumbuhkan rasa aman dan percaya diri pada diri santri. Ketika santri merasa diperhatikan, mereka lebih berani mengungkapkan pendapat dan mencari solusi saat menghadapi kesulitan. Karena itu, keterlibatan aktif orang tua dalam forum dayah menjadi jembatan penting untuk menjaga suasana pendidikan yang sehat, saling percaya, dan penuh kekeluargaan.

Di tingkat lembaga, pengawasan dan regulasi yang bersifat mendidik perlu terus diperkuat. Dayah hendaknya memiliki mekanisme penanganan masalah santri yang berfokus pada pembinaan, bukan penghukuman. Para guru dan pengasuh berperan sebagai teladan yang menanamkan disiplin dengan kasih, bukan dengan kemarahan. Ketika para senior menunjukkan tanggung jawab dan ketulusan, para junior pun akan meneladani hal serupa dengan bangga.

Selain itu, layanan bimbingan konseling di dayah perlu ditingkatkan agar menjadi ruang aman bagi santri untuk berbagi persoalan tanpa rasa takut. Guru dan pengasuh perlu dibekali pemahaman dasar tentang psikologi remaja, sehingga mereka dapat menghadapi setiap permasalahan dengan bijak dan penuh empati. Dengan cara ini, setiap masalah tidak lagi dianggap sebagai kesalahan, melainkan kesempatan untuk belajar dan tumbuh bersama.

Kegiatan sosial dan pembelajaran kolaboratif dapat menjadi sarana efektif untuk menumbuhkan empati dan solidaritas antarsantri. Melalui musyawarah, gotong royong, dan kegiatan pengabdian masyarakat, para santri belajar menerapkan nilai-nilai akhlak dalam kehidupan nyata. Pengalaman semacam ini membentuk pribadi yang sabar, toleran, dan mampu menyelesaikan perbedaan dengan cara damai.

Pemerintah dan masyarakat juga memiliki peran penting dalam memperkuat gerakan pendidikan tanpa kekerasan. Dukungan kebijakan, pelatihan etika, dan sosialisasi anti-perundungan perlu dilanjutkan secara berkesinambungan. Kolaborasi lintas pihak akan memperkuat ekosistem pendidikan yang manusiawi dan berkeadaban di lingkungan dayah.

Kurikulum dayah sebaiknya terus diperbarui dengan menanamkan nilai empati, tanggung jawab, dan kepemimpinan berakhlak. Pelajaran agama seperti fikih dan akhlak dapat dikaitkan dengan praktik kehidupan sehari-hari, agar santri memahami bahwa ilmu bukan sekadar hafalan, melainkan pedoman untuk diamalkan. Dengan pendekatan demikian, dayah akan melahirkan generasi santun, berwawasan luas, dan siap membawa Islam yang damai ke tengah masyarakat.

Keteladanan guru dan pengasuh merupakan fondasi utama keberhasilan pendidikan. Santri belajar bukan hanya dari apa yang didengar, tetapi juga dari apa yang mereka lihat setiap hari. Ketika guru menunjukkan kesabaran, kejujuran, dan kedisiplinan, nilai-nilai itu akan tertanam dalam diri santri. Lingkungan yang sarat keteladanan akan melahirkan budaya disiplin yang menenteramkan, bukan menakutkan.

Menjadikan dayah sebagai kiblat pendidikan Islam tanpa kekerasan bukan sekadar cita-cita, melainkan tanggung jawab bersama. Dengan komitmen pengasuh, guru, santri, orang tua, dan pemerintah, dayah akan terus memancarkan cahaya ilmu dan akhlak bagi umat. Dari ruang-ruang pengajian yang dipenuhi doa inilah akan tumbuh generasi berilmu, berkarakter, dan siap membawa nilai-nilai Islam yang damai ke tengah kehidupan masyarakat.

Penulis adalah Salah seorang Pengurus dan Kepala Madrasah Aliyah di Dayah Madrasah Ulumul Quran (MUQ) Pagar Air, Aceh.

0 komentar:

Posting Komentar

Resent Post

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Cari Blog Ini

Join Us

Setiap Tulisan yang Ingin diambil atau dicopy di Blog ini Sangat Etis Bila diberi tahu. Diberdayakan oleh Blogger.

Video

Popular Posts

Video of Day

Our Facebook Page

  • Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit.
  • Aliquam tincidunt mauris eu risus.
  • Vestibulum auctor dapibus neque.

Find us on Facebook

Our Facebook Page

About

News

Opinium