Senin, 20 April 2020

Alkisah, orang-orang yang di Aceh tidak ada satupun yang terinfeksi coronavirus disease (Covid-19). Kalau tidak percaya, saudara boleh cek satu persatu.
Tetapi, kenapa sudah ditemukan ada yang  positiv covid-19 bahkan ada yang meninggal di Aceh?. Nah, soalannya. Semua yang sudah terinfeksi korona itu adalah orang-orang Aceh yang pulang dari luar  atau orang luar yang datang ke Aceh. Bukan orang yang di Aceh yang tak  kemana-mana terinfeksi korona.
Sekarang, yang menurut saya kurang "srek" kalau tidak boleh dibilang gila adalah orang di Aceh yang tak pernah kemana-mana justru seolah-olah dihukum.
Selama ditemukannya yang positif korona di Aceh yang kebanyakan tidak kemana-mana dibatasi aktivitasnya. Tidak boleh ke warung kopi padahal ini sudah menjadi Trade Mark orang Aceh, tidak boleh lagi ngumpul bareng-bareng lagi. Tidak boleh ke Mesjid berjamaah (ini bukan kajian fiqh saat darurat ya) padahal Aceh adalah negeri syariat. Bahkan, terakhir diberlakukan jam malam. Bagi orang yang menikmati Aceh selama ini, situasi seperti saat ini atau dengan istilah distancing Social dirasakan sebagai sebuah hukuman. Padahal orang- orang yang di Aceh yang tidak kemana-mana tidak salah apa-apa.
Padahal yang semestinya kena sanksi atau hukuman itu adalah orang Aceh yang pulang ke Aceh atau orang luar datang ke Aceh, apakah dia pembisnis, pelancong atau bahkan majelis ta'lim. Apalagi pernah singgah didaerah episentrum covid-19.
Padahal bila orang-orang seperti ini apalagi mereka jelas-jelas baru pulang dari daerah episentrum korona yang diperlakukan khusus (jika tak boleh dibilang sanksi atau hukuman) itu akan lebih gampang memutus rantai penyebaran korona.
Misalnya, Aceh cuma satu Bandara, dari awal semestinya dibatasi. Saat penumpang turun, mereka itu diperintahkan dengan cara keras tak boleh ke warung kopi, mereka ini tak boleh ngumpul, pokok dibatasi diam di rumah selama 14 hari.
Bisa jadi, mereka ini beri label, apakah seperti gelang yang tak mudah dilepaskan, sehingga masyarakat lain atau orang- orang kampung atau pak geuchik dan aparat gampong tahu kalau mereka ini tak boleh didekati dulu dan aktivitasnya dibatasi. Biar orang tahu pemda mengumumkan bahwa yang tanda itu tak boleh didekati dulu sebelum diyakini dia tak kena covid-19.
Begitu pula perlakuan yang sama bagi mereka yang pulang dengan Bus atau L-300 (pasti yang dengan Bus/L-300 itu umumnya pulang dari medan) baik  jalur timur maupun jalur barat.
Pada saat yang sangat ekstrem seperti saat ini, mereka yang turun dari Pesawat langsung semuanya wajib dibawa ke tempat penampungan sementara yang disediakan pemda. Sesampai ditempat tersebut, apakah teridentifikasi atau tidak bila mrk mereka mau pulang harus bersumpah dengan lafaz Demi Allah mau melakukan isolasi diri. Kalau terlihat main- main seperti tidak mau karantina mandiri, dengan segala konsekwensi aparat atau petugas wajib menahan mereka utk dikarantina massal.
Sehingga dengan demikian jelas mana yang berpotensi terinfeksi dan mana yang tidak.
Apa yang kita rasakan saat ini, seperti kita berada di hutan belantara. Kita tidak tahu siapa yang sudah bersentuhan dengan yang berpotensi terinfeksi dan tidak tahu siapa yang memang sudah terinfeksi. Karena yang berpotensi tidak dipisahkan atau ditandai. Padahal bila yang berpotensi terinfeksi diidentifikasi, situasi seperti saat ini bisa dihindari.
Kenapa ini tidak dilakukan? Karena mereka-mereka (jangan besar- besar dibaca/sir) tidak cerdas membaca situasi atau malas berpikir, meski penampilan parlente).
Akibatnya, maka muncullah kebijakan yang seperti saat ini. Orang-orang di Aceh, yang tidak kemana-mana, tidak salah apa-apa, yang sehari-hari,  kiri kanan cari nafkah, seolah-olah diberi perlakuan seperti orang bersalah (bila tak boleh dikatakan diberi sanksi atau hukuman).
Tapi mau bilang apa? Kalau pengambil kebijakan kadarnya terbatas. "Anggota Dewan juga Taheu mantong" alias diam tidak bersuara.

Minggu, 22 Maret 2020

Virus Corona itu makhluk hidup, saya yakin mrk punya bahasa sendiri. Bila dia muncul saat nabi Sulaiman pasti dia itu sudah bunuh diri. Karena patuhnya pada Nabi.

Kenapa sekarang merajalela, karena tak ada yg didengar atau tak ada lagi yg bisa mendengar. Sekarang banyak yg bicara tapi beda dg yg dibicarakan.

Selain obat agar Corona cepat lenyap (tdk ganas) perlu ada orng yg hatinya seputih kapas yg tak ternoda. Antara mulut dan hati seirama.

Ingat Corona itu makhluk juga makhluk seperti manusia. Banyak message dari kemunculan Corona ini.

Salah satu yg mesti dilakukan adalah intropeksi diri. Upaya utk memutihkan hati tanpa noda hrs terus dilakukan.

Coba bayangkan, kita sama-sama muslim dan sama suku  Aceh saja, kadang diantara kita saja masih saling benci dan marah tanpa sebab, hanya karena hal-hal kecil. Malah ada yg mengatakan: "Pu Ka peugah, nyoe gampong kee" (Apa kamu bilang, ini kampung saya), dll. Sumpah serapah yg begitu mudah. Seakan-akan yg disumpah-serapahi bodoh tak tahu apa-apa. Padahak hanya menyampaikan membawa kemaslahatan bersama. Tapi karena beda dari kebiasaan jadi terus marah-marah.

Belum lagi yg tak kasat mata yg mungkin lebih miris dari yg kasat mata.

(Baru saya baca berita, ada granat yg meletus di sebuah rumah pejabat).

Lebih tak masuk akal lagi, ada yg menantang Tuhan, tak mau mendengar kebaikan yang disampaikan, bahkan sampai membentuk koloni memfitnah kebaikan2 yg disampaikan. Hanya karena kepentingan pribadi dan koloni yg terhalangi.

Manusia bila kepentingan dirinya terhalangi tak berpikir benar dan salah. Bisa teramat sangat ganas melebihi korona.

Apakah manusia tak lebih ganas dari Corona?

Virus ini datang dari Cina. Tapi ingat, pesan dalam Islam jelas: Allah memberi bencana bukan hanya utk seseorang atau sebuah kaum tapi utk semuanya meski yg mempertontonkan dosa hanya sebagian kaum.

Tapi ingat, pesan dlm Islam juga jelas: Bila masih ada orang yg shalih Allah pasti menerima doa2nya. Allah akan menghilangkan wabah meski penyebarannya begitu Dahsyat.

Sekali saya tegaskan, selain obat sbg ikhtiar, juga doa2 orang shalih akan meredam wabah ini.

Mari bersama-sama menjadi orang shalih mumpung masih ada waktu.

(Tulisan ini bukan copas, langsung dari Ust (😅)dj.Husita). Bila ada yg tersinggung dan ada bantahan, siap melayani perdebatan dg batas2 ukhwah islamiah) 🙏🙏🙏🙏

Sabtu, 09 Desember 2017

Setiap tanggal 4 Desember, Gerakan Aceh Merdeka memperingati hari kelahirannya (milad). Pada tanggal tersebut tahun 1976 ( 41 tahun silam), Hasan di Tiro (Hasan Tiro) dan beberapa pengikutnya memproklamirkan gerakan perlawanan kepada NKRI yang kemudian dikenal dengan GAM di daerah gunung Halimun, kawasan pedalaman Tiro Pidie. Tujuannya adalah ingin memerdekan Aceh dengan sebutan Aceh-Sumatera National Front’s (ASNLF). Mulai saat itu terjadi perlawanan bersenjata antara GAM dengan pemerintah Indonesia.

Perlawanan senjata itu berlangsung lumayan lama. Selama itu banyak cerita kemanusiaan yang memilukan. Bak sebuah perang, tentu saja korban jiwa, harta dan sebagainya tidak dapat dielakkan. Selama konflik berlangsung, setiap tanggal 4 Desember (bahkan menjelang dan pasca) menjadi waktu yang mencekamkan bagi rakyat Aceh.

Minggu, 03 Desember 2017

Salah satu program perkuliahan bagi calon guru yang pernah pernah dipercayakan kepada saya selama 10 terakhir adalah Micro Teaching. Sesuai dengan namanya, Micro Teaching adalah salah satu program perkuliahan bagi mahasiswa calon guru melalui langsung praktek atau latihan mengajar secara langsung.

Meskipun para mahasiswa keguruan selama ini sudah mantap mengetahui teori-teori pendidikan dan pembelajaran selama menduduki bangku kuliah. Namun, belumlah cukup bila belum melakukan praktek yang nyata.

Oleh karena itu, program perkuliahan mikro teaching menjadi penting dan wajib diikuti oleh para calon guru karena memberi pengalaman pertama dalam proses pembelajaran di depan kelas. Sehingga, program ini benar-benar mampu menghasilkan guru yang profesional dan berkualitas yang siap dipergunakan sebagai tenaga pendidik di tengah-tengah masyarakat.

Banyak orang beranggapan bahwa menjadi guru dan mengajar di depan kelas adalah hal yang biasa dan semua orang bisa melakukannya. Tetapi faktanya, mereka yang sudah mengajar dan sudah berlatih mengajar pun masih ada yang belum mampu mengajar dengan baik dan benar.

Resent Post

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Cari Blog Ini

Join Us

Setiap Tulisan yang Ingin diambil atau dicopy di Blog ini Sangat Etis Bila diberi tahu. Diberdayakan oleh Blogger.

Video

Popular Posts

Video of Day

Our Facebook Page

  • Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit.
  • Aliquam tincidunt mauris eu risus.
  • Vestibulum auctor dapibus neque.

Find us on Facebook

Our Facebook Page

About

News

Opinium