Kamis, 23 November 2017

Pendidikan merupakan satu-satunya cara untuk mencerdaskan anak bangsa. Melalui pendidikan, anak bangsa dididik untuk mengetahui dirinya sendiri dan bangsanya serta mampu memajukan bangsa ke strata yang tinggi. Melalui pendidikan bangsa ini bisa bangkit dari keterpurukan dan diperhitungkan di mata negara lain  

Selain itu, melalui pendidikan yang diperoleh anak bangsa mampu meningkat kesejahteraan dirinya pribadi dan membawa kemakmuran dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Maka dengan demikian, permasalahan yang dihadapi bangsa ini dapat diperoleh solusinya.

Namun, melihat kondisi dan situasi bangsa selama ini sepertinya solusi yang diharapkan belum ada sebagai mana mestinya. Masalah klasik seperti lapangan pekerjaan, tenaga skill, pengangguran, emosional dan lain sebagainya belum ada kemajuan sebagaimana yang diharapkan.

Padahal, kalau kita lihat dari program-program pendidikan negeri ini selalu ada penyempurnaan. Bahkan terkadang dalam satu tahun ada 2 kali pembaharuan kebijakan pendidikan. Misalnya, mengenai kurikulum pendidikan, mulai dari tahun 2013 saja sudah berapa kali ada revisi. Belum lagi hal-hal lain, seperti sarana dan prasarana. Termasuk mengaplikasikan Tehnologi Informasi dalam dunia pendidikan.

Secara jujur sebenarnya setiap anak bangsa dapat merasakan apa yang dihadapi oleh bangsa ini saat ini berkaitan dengan dunia pendidikan. Pergantian pengelolaan pendidikan (baca: menteri) juga belum mampu merubah wajah pendidikan kita dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan itu.

Agaknya semua bisa melihat, pergantian pengambil kebijaksanaan bukanlah sebuah solusi yang tepat. Terkadang kebijakan yang diambil berputar-putar di situ-situ saja. Kebijakan yang satu belum terlaksana dengan baik lalu kemudian ada kebijakan baru yang mengurusi itu-itu saja. Sehingga proses yang diingini cepat pada akhirnya semakin lambat atau tidak jalan sama sekali. Akibatnya, para objek pendidikan yang dirugikan.

Saat ini, masalah kurikulum belum jelas 100% seperti yang diharapkan. Revisi kurikulum 2013 yang baru di sahkan Juli 2016 (permen mendikbud nomor 24) pelaksanaannya juga masih tersendat-sendat.
Berkaitan dengan ini, guru sebagai ujung tombak pelaksanaan kurikulum menjadi serba salah. Apalagi ada yang belum tahu bagaimana pelaksanaannya terutama di daerah terpencil. Karena kurang sosialisasi dan pelatihan-pelatihan.

Hal lain adalah guru yang mestinya dapat mengajar dengan tenang di sekolah-sekolah kemudian selalu disibuk-sibukkan dengan perubahan-perubahan yang sepertinya di situ-situ saja. Kapan guru dapat mengajar, kalau setiap saat harus mengikuti pelatihan-pelatihan. Padahal materi yang diajarkan di sekolah-sekolah tidak jauh berubah terlalu padat dan agak menyesakkan bagi para pelajar.

Padahal, kalau konsep pendidikan kita ingin meningkatkan skill para pelajar semestinya materi-materi yang diajarkan di sekolah dipilih yang sangat mendasar saja. Misalnya, satu semester cukup tiga bab teori yang lain praktek yang di ulang-ulang dengan objek percobaan yang berbeda untuk konsep yang materi sama. Sehingga tujuan yang ingin dicapai jelas dan keahlian yang diinginkan juga tercapai.

Baru kemudian, bila materi yang sangat mendasar itu sudah diajarkan dan masih banyak waktu, guru baru memfokuskan untuk memberi konsep-konsep lain sebagai tambahan terutama konsep-konsep yang merupakan kelanjutan dari konsep dasar yang diberikan. Hal ini dapat menghindari kejenuhan-kenjenuhan para pelajar atau objek pendidikan itu sendiri.

Saya kira dengan begitu  kreativitas pelajar yang diharap untuk dapat tumbuh dan berkembang. Sekarang, bila dicermati secara seksama wajah-wajah pelajar di seluruh Indonesia umumnya kelihatan jenuh. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa harus mengikuti semuanya tanpa ada yang dapat memprotes. Karena sistem yang dibentuk seperti itu.

Akibat fatal dari kejenuhan yang berkepanjangan itu adalah mereka apatis dan tidak mau tahu terhadap persoalan lingkungan dan bangsa. Secara psikologis ini adalah penyakit. Pertanyaannya adalah apakah tawuran sebuah ekspresi?


Semestinya para pengambil kebijakan menemukan solusi yang tepat untuk ini semua. Tetapi kebijakan itu tidak boleh diukur dari ukuran para pengambil keputusan. Mereka juga harus melihat kondisi real di lapangan. Dalam hal ini tidak boleh ada yang merasa hebat. Karena menyangkut masa depan bangsa.

0 komentar:

Posting Komentar

Resent Post

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Cari Blog Ini

Join Us

Setiap Tulisan yang Ingin diambil atau dicopy di Blog ini Sangat Etis Bila diberi tahu. Diberdayakan oleh Blogger.

Video

Popular Posts

Video of Day

Our Facebook Page

  • Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit.
  • Aliquam tincidunt mauris eu risus.
  • Vestibulum auctor dapibus neque.

Find us on Facebook

Our Facebook Page

About

News

Opinium