Rabu, 29 Oktober 2025

 

Menjaga Marwah Ulama di Era Media Digital

Oleh: Djamaluddin Husita



    Beberapa waktu lalu, publik dihebohkan oleh tayangan televisi nasional yang menyinggung kehormatan Pesantren Lirboyo. Reaksi keras datang dari berbagai kalangan—alumni, santri, hingga masyarakat umum—yang menilai tayangan itu melecehkan lembaga keagamaan. Akhirnya, pihak televisi meminta maaf. Bagi saya, kejadian ini bukan sekadar hiburan yang keliru, tetapi menyentuh marwah ilmu dan wibawa ulama.

Dalam pandangan Islam, ulama bukan sekadar guru agama, melainkan penjaga moral umat dan pewaris nilai-nilai keilmuan. Ketika martabat mereka terusik, yang terguncang bukan hanya nama seseorang, tetapi keseimbangan nilai dan rasa hormat terhadap ilmu. Karena itu, setiap bentuk komunikasi publik, terutama di media massa dan ruang digital, harus berlandaskan adab dan tanggung jawab moral.

Adab merupakan fondasi utama dalam setiap proses pencarian ilmu. Tanpa adab, ilmu kehilangan cahaya dan arah. Di era media digital, pesan yang dilontarkan tanpa etika dapat menimbulkan fitnah dan kegaduhan. Jari-jari di media sosial hari ini sering berperan layaknya lisan di masa lalu: bisa menjadi sumber dakwah yang menenteramkan, tetapi juga bisa menjadi alat yang melukai. Maka, kehati-hatian dalam berkomunikasi menjadi wujud nyata dari tanggung jawab moral umat beriman.

Kebebasan berekspresi memang hak setiap orang, tetapi kebebasan itu tidak berarti bebas menista. Teknologi tidak boleh dijadikan alasan untuk menanggalkan etika. Islam mengajarkan bahwa kritik yang baik harus dibingkai dengan adab. Kritik yang beradab membangun, sementara hinaan hanya menimbulkan luka dan kebencian.

Kearifan Aceh dan Tradisi Menghormati Ulama

Aceh memiliki tradisi keilmuan dayah yang menanamkan keseimbangan antara ilmu dan akhlak. Dayah tidak hanya mencetak santri berilmu, tetapi juga membentuk pribadi yang santun, rendah hati, dan berkarakter. Dalam tradisi dayah, menghormati guru merupakan bagian dari perjalanan spiritual untuk meraih keberkahan ilmu. Pepatah Aceh mengatakan, 'Ta’dhim keu gurèe meuteumei ijazah'—menghormati guru adalah jalan untuk mendapatkan ijazah dan keberkahan.

Nilai luhur ini tidak hanya berlaku di lingkungan pendidikan agama, tetapi juga relevan dalam ruang publik digital. Bila santri menundukkan kepala di hadapan gurunya, maka masyarakat modern dapat meneladani sikap itu dengan menjaga tutur kata di media sosial. Menjaga marwah ulama bukan semata-mata bentuk penghormatan personal, tetapi juga cara menjaga keberkahan ilmu dan keharmonisan sosial.

Dalam konteks Aceh, kearifan lokal telah lama menjadi penuntun moral masyarakat. Ulama, teungku, dan tokoh agama tidak sekadar menjadi pengajar, tetapi juga penjaga keseimbangan spiritual dan sosial. Nilai-nilai ini perlu dirawat di tengah derasnya arus digitalisasi. Bila masyarakat Aceh tetap berpegang pada tradisi menghormati ulama, maka dunia digital pun akan menjadi ruang yang damai dan beretika.

Budaya Aceh menempatkan ulama sebagai 'cahaya di tengah gelap.' Oleh karena itu, setiap ujaran, tulisan, atau siaran yang menyangkut ulama haruslah diukur dengan hati-hati. Tidak semua hal perlu disiarkan untuk menjadi populer. Kadang diam lebih bijak daripada berkata yang menyinggung. Dalam masyarakat yang beradab, kehormatan seseorang dijaga sebagaimana menjaga kehormatan diri sendiri.

 

Media dan Tanggung Jawab Etika

Media massa dan platform digital memegang peranan penting dalam membentuk persepsi publik terhadap ulama. Media bukan hanya penyalur informasi, tetapi juga pembentuk nilai dan budaya. Karena itu, setiap redaksi, jurnalis, dan kreator konten memiliki tanggung jawab etis untuk menjaga wibawa keagamaan dalam setiap pemberitaan. Kata yang dipilih, gambar yang ditayangkan, atau narasi yang disusun memiliki dampak sosial yang luas.

Kebebasan pers dan keterbukaan digital memang penting, namun keduanya harus diimbangi dengan kesadaran moral. Tanpa kendali etika, kebebasan bisa berubah menjadi anarki informasi. Media seharusnya berfungsi sebagai penuntun arah moral masyarakat, bukan sekadar mesin sensasi. Prinsip dasar jurnalisme—akurat, berimbang, dan beretika—harus terus ditegakkan sebagai bagian dari tanggung jawab sosial.

Masyarakat juga perlu dibekali dengan literasi digital berbasis akhlak. Literasi bukan hanya soal kemampuan membaca informasi, tetapi juga menimbang kebenaran dan dampaknya. Di sinilah pentingnya pendidikan nilai yang melibatkan rumah, sekolah, dan lembaga keagamaan. Rumah menanamkan teladan, sekolah menumbuhkan akhlak, dan media menyebarkan nilai kebajikan ke ruang publik. Jika ketiganya berjalan sinergis, ruang digital akan lebih sehat dan beradab.

Menjaga marwah ulama bukan berarti menutup ruang kritik, tetapi menegaskan batas antara kritik yang membangun dan penghinaan yang merusak. Ulama juga manusia yang dapat dikoreksi, tetapi harus dengan cara yang santun dan terhormat. Kritik yang berlandaskan etika justru memperkuat wibawa ulama dan memperkaya wacana keilmuan umat.

Nasihat tentang menjaga lisan mungkin terdengar klasik, tetapi justru di era digital inilah pesan itu menjadi paling relevan. Menahan diri sebelum menulis atau berbicara adalah tanda kematangan moral. Dunia digital akan lebih sehat bila setiap pengguna berpegang pada prinsip: menulis dengan benar, berbicara dengan santun, dan menghormati yang berilmu.

Akhirnya, menjaga marwah ulama berarti menjaga keseimbangan moral bangsa. Ulama adalah cermin nilai dan penuntun arah umat. Bila ilmu dan adab berjalan seiring, masyarakat akan tetap berilmu, berakhlak, dan bermartabat di tengah derasnya kemajuan zaman. Wallahu ta’ala a’lam bishawab.


Tentang Penulis:

Djamaluddin Husita adalah Kepala MAS Ulumul Qur’an Kota Banda Aceh dan Ketua Kelompok Kerja Madrasah (K2M) Madrasah Aliyah Kota Banda Aceh.

0 komentar:

Posting Komentar

Resent Post

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Cari Blog Ini

Join Us

Setiap Tulisan yang Ingin diambil atau dicopy di Blog ini Sangat Etis Bila diberi tahu. Diberdayakan oleh Blogger.

Video

Popular Posts

Video of Day

Our Facebook Page

  • Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit.
  • Aliquam tincidunt mauris eu risus.
  • Vestibulum auctor dapibus neque.

Find us on Facebook

Our Facebook Page

About

News

Opinium