Mungkin masih ingat peristiwa seorang dokter (tidak
disebutkan kembali namanya di sini) yang membunuh isterinya hingga tewas
beberapa waktu lalu?. Konon, sang dokter yang membunuh isterinya (yang juga
berprofesi sebagai seorang dokter) menggunakan senjata api, dengan jarak tembakan
tidak terlalu jauh (baca: dekat). Sebagaimana diberitakan sang Isteri seketika
menghembuskan nafas penghabisan.
Pembunuhan apalagi pembunuhan berencana adalah kejahatan
yang paling bejat diantara kejatahatan-kejahatan yang lain di dunia ini. Mereka
ini, telah bertindak di atas kepatutan dan kewajaran. Apalagi yang melakukannya
adalah orang-orang yang terdidik.
Bila kita kaitkan dengan kasus sang dokter tadi, menurut
saya apa yang dilakukannya itu lebih bejat lagi dimana yang dihabisinya adalah
isterinya sendiri (meski sudah mau bercerai). Sebab, mereka berdua pasti sudah
pernah mengecap keindahan dunia dengan segala pernak-perniknya. Apalagi, bila
sudah punya anak, isterinya adalah ibu dari anak-anaknya. Sehingga yang menjadi
korban dan menanggung segala penderitaan juga anak-anaknya sendiri. Atau paling
kurang, orang-orang di sekitar isterinya.
Sewaktu membaca berita itu, terbersit dalam pikiran kita
(mungkin hanya saya) bahwa betapa teganya seorang anak manusia membunuh manusia
lain yang notabenebya adalah Isterinya sendiri. Lalu pertanyaan yang muncul
bukan hanya: dimana letak hati nuraninya tetapi juga, dimana letak Intelektualitasnya?
Pasalnya pelaku itu adalah seorang dokter yang secara
kualitas intelektual selama ini diakui lebih. Bahkan mereka yang mau kuliah di
Fakultas Kedokteran saja memiliki standar nilai lebih tinggi dibandingkan fakultas
lain. Artinya, mereka memang sudah disaring begitu ketat jauh-jauh hari. Namun,
perlu saya tegaskan juga, dalam hal ini mereka yang memilih fakultas lain rendah.
Sebab tergantung pilihan-pilihan pribadi juga.
Tingkat pendidikan menjadi indikator bagi seseorang untuk
menilai kualitas intelektual sesorang. Mereka yang sudah melewati jenjang
pendidikan tinggi tentu memiliki kualitas beda dengan yang jenjang pendidikan
rendah. Dari segi Intelegensi Quotient saja sudah berbeda. Barang kali (maaf)
yang IQ sangat rendah pasti tidak mampu lulus tingkat sekolah dasar. Tetapi
mereka yang memiliki IQ rata-rata, sudah pasti dapat melewati pendidikan
menengah atas dan seterusnya.
Semestinya, seseorang yang sudah mengecap jenjang pendidikan
lebih tinggi secara kecerdasan, keilmuan dan intelektualitas juga tinggi.
Sehingga segala tindakan dan aktivitasnya tentu saja dengan mudah dapat
memilah-milah mana yang baik dan mana yang tidak baik.
Perlu diingat, tujuan dasar dari pengembangan ilmu
pengetahuan adalah untuk meningkatkan harmonisasi kehidupan. Membuat manusia dan
alam sekitar lebih damai dan aman. Kesejahteraan meningkat dan kehidupan
menjadi lebih baik. Bukan sebaliknya, apalagi menghilangkan kehidupan
seseorang. Jangankan menghilangkan kehidupan seseorang membuat orang susah saja
akan bertentangan dengan intelektual yang dimilikinya. Sehingga dapat dikatakan
prilaku itu disebabkan karena intelektual error.
Bila melihat realitas yang lain, kecenderungan prilaku
intelektual error banyak sekali dipraktekkan oleh mereka yang memiliki
pengetahuan tinggi.
Praktek-praktek membalikkan fakta, terutama dalam ranah
hukum, yang dilakukan oleh orang-orang yang memiliki pengetahuan hukum tinggi
adalah contoh lain yang membuat semua kita atau dalam Istilah Daniel
Simanjuntak nalar publik terhina. Rekayasa-rekayasa kasus dan juga membuat
drama-drama rendahan untuk sekedar mengelabui hukum adalah tindakan yang sulit
diterima akal sehat.
Salah satu kasus teranyar yang dipertontonkan oleh
seseorang yang terhormat ketua DPR adalah sesuatu yang terkadang sulit diterima
oleh khalayak ramai. Mungkin benar apa yang terjadi. Tetapi kejadian yang benar
dengan momentum yang kurang tepat membuat orang-orang banyak beranggapan bahwa
itu hanyalah sebuah rekayasa.
Pertanyaan besar kita adalah kenapa peristiwa seperti itu
bisa terjadi?? Mungkin jawabannya yang paling tepat adalah karena mereka tidak
memiliki rasa malu pada diri sendiri sehingga intelektual yang dimiliki
digadaikan begitu saja.
Satu hal yang perlu dikatakan adalah Intelektual Error
lebih berbahaya dari perang manapun di dunia ini.



0 komentar:
Posting Komentar