LGBT bukanlah
prilaku yang diturunkan karena faktor keturunan atau seperti yg diklaim oleh
kaum tersebut. Tetapi LGBT adalah penyakit kelainan orientasi seksualitas.
Namun kelompok dan pendukung LGBT terus berkampanye bahwa penyakit kelainan
orientasi seksualitas itu bukan penyakit tetapi sesuatu ciptaan Tuhan.
Sehingga, mereka dapat mengklaim bahwa prilaku tersebut merupakan hak asasi
yang harus dilindungi. Karena alasan itu maka kaum LGBT saat ini mati-matian
berjuang agar eksistensi mereka diperhitungkan dan diakui.
Bagi kita yang tidak
mengindap penyakit disorientasi seksualitas tidak boleh tertipu oleh propaganda
kaum LGBT atau para penyokong mereka. Apalagi sebagai umat yang beragama,
cerita semacam LGBT itu bukanlah cerita saat ini saja. Cerita kaum Luth, pada
hakekatnya dapat menjadi pelajaran bagi kita semua.
Karena prilaku LGBT
adalah penyakit maka peran keluarga memiliki peran yang sangat penting.
Keluarga terutama orang tua harus mampu mengetahui sedetil mungkin perubahan
prilaku pada anak-anak mereka. Termasuk cara bergaul mereka. Pergaulan yang
salah akan memberi kontribusi besar pada sikap dan prilaku negatif anak. Sebab,
terkadang begitu saja apa yang disampaikan si Anak. Bahkan anaknya menjadi
perokokpun ada orang tua yang tidak tahu.
Langkah yang paling
utama yang harus dilakukan orang tua adalah memberi pendidikan yang baik.
Pendidikan agama yang benar perlu diutamakan. Karena pemahaman agama yang benar
akan menjadi benteng yang kokoh dalam berprilaku.
Apalagi berkaitan
dengan prilaku GLBT. Agama islam tidak mentolerir sedikitpun berkaitan dengan
penyimpangan orientasi seksualitas. Bahkan sudah menikah pun ada hal-hal yang
tidak diperboleh. Mengenai prilaku seksualitas dalam islam tidak ada istilah
suka sama suka tetapi harus dengan ketentuan syariat.
Selain itu,
perhatian dan kasih sayang kepada anak juga menjadi faktor yang sangat penting
dari perilaku menyimpang anak. Betapa banyak anak-anak yang kecewa karena
mereka tidak mendapat kasih sayang yang cukup dari orang tua. Bahkan mereka
yang bergelimpangan harta banyak yang kecewa dengan orang tuanya. Banyak
cerita, anak orang kaya yang terjerumus dalan dunia hitam misalnya kecanduan
narkoba, termasuk perilaku seks.
Keharmonisan yang
diperlihatkan oleh orang tua kepada anak-anak juga akan membuat anak akan
berperilaku lurus. Tetapi bila dalam keluarga seperti perahu pecah maka potensi
berperilaku menyimpang anak sangat terbuka lebar.
Dalam era
globalisasi saat ini, sebagai orang tua perlu memberi pengawasan ketat kepada
anak-anaknya. Pengawasan yang kita maksudkan bukanlah pengekangan. Tetapi
anak-anak harus mampu memberi pertanggunganjawab terhadap apa-apa yang
dilakukan. Menurut saya, saat ini anak-anak tidak boleh melakukan apa saja
seenaknya. Tetapi apa yang dilalukan harus diketahui orang tua. Tidak peduli
apakah dia itu anak laki-laki atau perempuan. Dalam hal ini, yang sangat
diperlukan adalah komunikasi yang baik antara orang tua dan anak. Sebaiknya,
suasana dalam keluarga harus terbuka dan tidak ada yang ditakutkan. Suasana
ini, harua ditumbuhkembangkan oleh orang tua. Bukan tidak mungkin sikap
otoritas ortu akan membuat prilaku anak tidak sewajarnya.
Saya berpendapat
memberi pengawasan yang wajar kepada anak-anak tidak ada batasannya. Meskipun
orang-orang batasan memberi pengawasan anak sampai umur 17 tahun. Lewat umur
itu seorang anak dapat melakukan apa saja tanpa sepengetahuan orang tua. Namun,
bagi orang Timur apalagi ummat Islam tidak boleh seperti itu.
Pengawasan orang tua
harus sampai anak menikah. Itupun orang tua tidak boleh lepas tangan begitu
saja. Masih perlu memberi nasehat-nasehat demi keharmonisan rumah tangga
anaknya.
Namun, yang
disayangkan banyak anak-anak sekarang yg berorientsi ke barat sehingga ketika
sudah berumur 17 tahun ke atas sudah menganggap orang tua tidak perlu ikut
campur dalam kehidupannya. Saya kira, disinilah perlu pemahaman agama yang
benar kepada anak.
Menghadapi perilaku
yang menyimpang seperti GLBT yang sudah terang-terangan memperlihatkan
eksistsnsinya peran keluarga sangat dibutuhkan. Saya sangat yakin, bila orang
tua dalam keluarga memberi kasih yanv maksimal kepada seluruh anak-anaknya.
Maka kasus penyimpangan seperti GLBT yang sangat marak saat ini tidak akan
betkembang begitu pesat.


0 komentar:
Posting Komentar