Dulu ketika sekolah banyak
teman-teman yangbilang: “Cobalah merokok satu batang”. Tapi, karena Bapak saya
selalu bilang: “Kamu jangan coba-coba merokok”.Maka saya menolak untuk merokok
saat itu. “Maaf, saya tidak mau merokok, ‘ kata saya. Lalu teman saya bilang:
“Alaaah……,” Saya hanya tersenyum saja. Sementara teman saya melanjutkan
kebiasaan buruknya, di sebuah kantin depan sekolah.
----
Masa remaja adalah masa di
mana mereka sedang mencari jadi diri. Para ahli psikologi cenderung mengatakan
bahwa pada masa-masa seperti iniremaja berada pada keaadaan transisi. Banyak
hal-hal yang akan mereka lakukan agar agar eksistensi mereka dapat diakui.
Akibatnya, tak jarang dari mereka yang kemudian terjerumus pada hal-hal yang
negative. Apalagi hal ini dibarengi oleh kurang pedulinya orang tua terhadap
perkembangan anak.
Dalam rangka memperlihatkan
eksistensi diri, bagi sebagian remaja (khususnya remaja pria) merokok dianggap
sebagai salah cara untuk mengekspresikannya. Apalagi ini berkaitan dengan
keperkasaan diri. Banyak dari mereka yang beranggapan bahwa keperkasaan diri
dapat di simbolkan dengan cara merokok.
Sebagai contoh, teman saya
dulu itu begitu berbangga bila dia sempat merokok di depan guru. Dengan sikap
yang gagah perkasa, dia bilang: “Saya berani merokok di depan Bapak Guru itu”.
Anggapan seperti ini menunjukkan bahwa ada keinginan dari teman saya itu untuk
memperlihatkan kehebatannya. Bahkan untuk menujukkan keperkasaan di depan
remaja putri, tak jarang para remaja (pria) dengan sengaja mengekspresikannya dengan
merokok.
Pengaruh Lingkungan
Di beberapadaerah, kebiasaan
merokok remaja sudah menjadi pemandangan yang sangat mengkhawatirkan. Banyak
diantara mereka yang memulai merokok itu sejak dari kelas satu SMP. Bila kita
lakukan penelitian secara intensif setiap tahunnya, barangkali hampir semua
remaja putra SMP telah mulai mencoba merokok. Tergantung instens atau tidak
mereka merokok.
Saya pikir, kebiasaan merokok
remaja tidak terlepas dari pengaruh lingkungan dimana si remaja itu berada.
Banyak daerah, yang lingkungannya memberi ruang kepada remaja-remaja untuk
memulai merokok. Karena merokok dianggap suatu hal yang biasa, maka ketika
seorang kedapatan memulai merokok masyarakat lingkungan tidak bergerak untuk
paling kurang menegur mereka untuk merokok. Memang problemanya di sini adalah,
bagaimana mereka dapat menegur remaja untuk tidak merokok bila dimulutnya tidak
lengkang dari rokok.
Kenapa kita katakana bahwa
yang sangat mempengaruhi remaja merokok itu adalah lingkungan? Karena saya
yakin bahwa hampir semua lembaga pendidikan terutama lembaga pendididkan formal
seperti sekolah-sekolah tidak membiarkan anak didiknya untuk merokok. Jadi,
lingkungan memiliki kontribusi besar bagi seorang remaja memulai merokok.
Sebab, menurut saya, meskipun si remaja pada awalnya merokok sebagai simbul
“Keperkasaan” bagi dirinya, tetapi bila lingkungan tempat tinggalnya tidak
mendukung, maka hal ini juga tidak akan terjadi. Atau paling kurang jumlahnya
dapat diminimalisasi.
Perhatian Orang Tua
Salah satu solusi yang tepat
agar para remaja untuk tidak terjerumus dalam dunia “rokok-merokok” adalah
perhatian orang tua. Bahkan bila perlu, orang tua harus membuat suatu komintmen
dengan anak agar tidak merokok. Selain itu, yang perlu dilakukan oleh para
orang tua berkaitan dengan masalah ini adalah dengan cara memberi
penjelasan-penjelasan kepada anak sedini mungkin bahwa merokok itudapat merusak
kesehatan. Bila perlu orang tua membeli bacaan-bacaan khusus kepada anak
tentang akibat dari merokok. Atau dapat juga dengan membeli gambar-gambar yang
memviasualisasikan akibat dari merokok itu.
Tetapi itupun belum cukup,
sebab banyak juga anak remaja yang begitu lihai menyakinkan orang tua bahwa
dirinnya tidak merokok. Karena itu orang tua juga harus memiliki kelihaian pula
untuk mengetahui apakah anaknya merokok atau tidak. Cara efektif untuk
mengetahui kebiasaan anak merokok adalah dengan cara agar orang tua dapat
memperlakukan anaknya sebagai teman. Dengan itu, akan terbuka komunikasi yang
jujur antara siswa dengan orang tua. Kuncinya di sini adalah keharmonisan
antara orang tua dan anak harus selalu terjaga, sehingga tidak terjadi
kehilangan komunikasi.
Kampanye Anti Rokok
Kampanye anti rokok memang
telah dilakukan oleh pihak-pihak yang peduli terhadap berbahayanya merokok.
Tetapi hasilnya tidak begitu mengembirakan. Sampai saat ini persentase perokok
di Indonesia masih sangat tinggi. Jadi, kampanye anti rokok juga harus lebih
intens lagi dilakukan. Terutama kepada generasi-generasi muda. Bila perlu
kepada anak-anak yang masih duduk di bangku akhir Sekolah Dasar. Sebab, setiap
tahun remaja perokok terus berganti. Dari satu generasi ke genarasi yang lain.
Artinya, generasi ini sudah memulai, maka akan dilanjutkan oleh generasi
berikutnya. Dan seterusnya membentuk suatu rantai yang tidak akan
putus-putusnya.
Saya kira, bila cara-cara
seperti dapat dilakukan maka pada akhirnya akan menghasilkan suatu hasil yang
mengembirakan. Kita tidak dapat berharap lagi pada pemerintah dalam hal merokok
ini. Sebab kebijakan yang dilakukan pemerintah selalu berdemensi politik.
Banyak hal yang dipertimbangkan sehingga masalah merokok ini tidak
selesai-selesai. Harapan kita adalah bagaimana pada suatu saat nanti, kebiasaan
merokok bukan lagi masalah bagi bangsa Indonesia ini. Semua rakyat nantinya
menyadari bahwa merokok itu adalah sebuah kebiasaan yang buruk. Semoga.


0 komentar:
Posting Komentar