Selasa, 21 November 2017

Dulu ketika sekolah banyak teman-teman yangbilang: “Cobalah merokok satu batang”. Tapi, karena Bapak saya selalu bilang: “Kamu jangan coba-coba merokok”.Maka saya menolak untuk merokok saat itu. “Maaf, saya tidak mau merokok, ‘ kata saya. Lalu teman saya bilang: “Alaaah……,” Saya hanya tersenyum saja. Sementara teman saya melanjutkan kebiasaan buruknya, di sebuah kantin depan sekolah.
----

Masa remaja adalah masa di mana mereka sedang mencari jadi diri. Para ahli psikologi cenderung mengatakan bahwa pada masa-masa seperti iniremaja berada pada keaadaan transisi. Banyak hal-hal yang akan mereka lakukan agar agar eksistensi mereka dapat diakui. Akibatnya, tak jarang dari mereka yang kemudian terjerumus pada hal-hal yang negative. Apalagi hal ini dibarengi oleh kurang pedulinya orang tua terhadap perkembangan anak.
Dalam rangka memperlihatkan eksistensi diri, bagi sebagian remaja (khususnya remaja pria) merokok dianggap sebagai salah cara untuk mengekspresikannya. Apalagi ini berkaitan dengan keperkasaan diri. Banyak dari mereka yang beranggapan bahwa keperkasaan diri dapat di simbolkan dengan cara merokok.
Sebagai contoh, teman saya dulu itu begitu berbangga bila dia sempat merokok di depan guru. Dengan sikap yang gagah perkasa, dia bilang: “Saya berani merokok di depan Bapak Guru itu”. Anggapan seperti ini menunjukkan bahwa ada keinginan dari teman saya itu untuk memperlihatkan kehebatannya. Bahkan untuk menujukkan keperkasaan di depan remaja putri, tak jarang para remaja (pria) dengan sengaja mengekspresikannya dengan merokok.
Pengaruh Lingkungan
Di beberapadaerah, kebiasaan merokok remaja sudah menjadi pemandangan yang sangat mengkhawatirkan. Banyak diantara mereka yang memulai merokok itu sejak dari kelas satu SMP. Bila kita lakukan penelitian secara intensif setiap tahunnya, barangkali hampir semua remaja putra SMP telah mulai mencoba merokok. Tergantung instens atau tidak mereka merokok.
Saya pikir, kebiasaan merokok remaja tidak terlepas dari pengaruh lingkungan dimana si remaja itu berada. Banyak daerah, yang lingkungannya memberi ruang kepada remaja-remaja untuk memulai merokok. Karena merokok dianggap suatu hal yang biasa, maka ketika seorang kedapatan memulai merokok masyarakat lingkungan tidak bergerak untuk paling kurang menegur mereka untuk merokok. Memang problemanya di sini adalah, bagaimana mereka dapat menegur remaja untuk tidak merokok bila dimulutnya tidak lengkang dari rokok.
Kenapa kita katakana bahwa yang sangat mempengaruhi remaja merokok itu adalah lingkungan? Karena saya yakin bahwa hampir semua lembaga pendidikan terutama lembaga pendididkan formal seperti sekolah-sekolah tidak membiarkan anak didiknya untuk merokok. Jadi, lingkungan memiliki kontribusi besar bagi seorang remaja memulai merokok. Sebab, menurut saya, meskipun si remaja pada awalnya merokok sebagai simbul “Keperkasaan” bagi dirinya, tetapi bila lingkungan tempat tinggalnya tidak mendukung, maka hal ini juga tidak akan terjadi. Atau paling kurang jumlahnya dapat diminimalisasi.
Perhatian Orang Tua
Salah satu solusi yang tepat agar para remaja untuk tidak terjerumus dalam dunia “rokok-merokok” adalah perhatian orang tua. Bahkan bila perlu, orang tua harus membuat suatu komintmen dengan anak agar tidak merokok. Selain itu, yang perlu dilakukan oleh para orang tua berkaitan dengan masalah ini adalah dengan cara memberi penjelasan-penjelasan kepada anak sedini mungkin bahwa merokok itudapat merusak kesehatan. Bila perlu orang tua membeli bacaan-bacaan khusus kepada anak tentang akibat dari merokok. Atau dapat juga dengan membeli gambar-gambar yang memviasualisasikan akibat dari merokok itu.
Tetapi itupun belum cukup, sebab banyak juga anak remaja yang begitu lihai menyakinkan orang tua bahwa dirinnya tidak merokok. Karena itu orang tua juga harus memiliki kelihaian pula untuk mengetahui apakah anaknya merokok atau tidak. Cara efektif untuk mengetahui kebiasaan anak merokok adalah dengan cara agar orang tua dapat memperlakukan anaknya sebagai teman. Dengan itu, akan terbuka komunikasi yang jujur antara siswa dengan orang tua. Kuncinya di sini adalah keharmonisan antara orang tua dan anak harus selalu terjaga, sehingga tidak terjadi kehilangan komunikasi.
Kampanye Anti Rokok
Kampanye anti rokok memang telah dilakukan oleh pihak-pihak yang peduli terhadap berbahayanya merokok. Tetapi hasilnya tidak begitu mengembirakan. Sampai saat ini persentase perokok di Indonesia masih sangat tinggi. Jadi, kampanye anti rokok juga harus lebih intens lagi dilakukan. Terutama kepada generasi-generasi muda. Bila perlu kepada anak-anak yang masih duduk di bangku akhir Sekolah Dasar. Sebab, setiap tahun remaja perokok terus berganti. Dari satu generasi ke genarasi yang lain. Artinya, generasi ini sudah memulai, maka akan dilanjutkan oleh generasi berikutnya. Dan seterusnya membentuk suatu rantai yang tidak akan putus-putusnya.
Saya kira, bila cara-cara seperti dapat dilakukan maka pada akhirnya akan menghasilkan suatu hasil yang mengembirakan. Kita tidak dapat berharap lagi pada pemerintah dalam hal merokok ini. Sebab kebijakan yang dilakukan pemerintah selalu berdemensi politik. Banyak hal yang dipertimbangkan sehingga masalah merokok ini tidak selesai-selesai. Harapan kita adalah bagaimana pada suatu saat nanti, kebiasaan merokok bukan lagi masalah bagi bangsa Indonesia ini. Semua rakyat nantinya menyadari bahwa merokok itu adalah sebuah kebiasaan yang buruk. Semoga.

0 komentar:

Posting Komentar

Resent Post

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Cari Blog Ini

Join Us

Setiap Tulisan yang Ingin diambil atau dicopy di Blog ini Sangat Etis Bila diberi tahu. Diberdayakan oleh Blogger.

Video

Popular Posts

Video of Day

Our Facebook Page

  • Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit.
  • Aliquam tincidunt mauris eu risus.
  • Vestibulum auctor dapibus neque.

Find us on Facebook

Our Facebook Page

About

News

Opinium