Rabu, 29 Oktober 2025

 

Apakah Hari Santri Harus Bersarung?

Oleh: Djamaluddin Husita

 


Beberapa waktu yang lalu, saya menerima undangan menghadiri peringatan Hari Santri tanggal 22 Oktober 2025 di sebuah Dayah di Banda Aceh. Di bagian bawah undangan itu terdapat catatan kecil: “Bagi laki-laki, memakai sarung dan peci hitam.” Sekilas catatan itu tampak biasa saja, tetapi justru menimbulkan pertanyaan dalam benak: benarkah perayaan Hari Santri mesti diiringi kewajiban mengenakan sarung? Apakah tanpa sarung seseorang tak lagi layak disebut santrii

Di lingkungan Pesantren (baca=Dayah), sarung memang lebih dari sekadar kain panjang yang menutupi tubuh. Ia adalah bagian dari budaya dan simbol identitas. Sejak masa lampau, citra santri selalu berdampingan dengan sarung. Dari waktu subuh hingga malam, dari halaqah kitab kuning hingga gotong royong membersihkan halaman, sarung menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian. Ia menggambarkan kesederhanaan, kedisiplinan, serta adab yang menjadi napas kehidupan pesantren.

Namun, zaman terus bergerak dan wajah kesantrian ikut berubah. Kini para santri tidak lagi hanya hidup di balik pagar pesantren. Mereka hadir di kampus, lembaga pemerintahan, dunia usaha, bahkan di ranah teknologi digital. Citra santri bukan lagi terbatas pada sarung dan kitab kuning, melainkan juga pada kiprah, gagasan, dan karya nyata mereka di tengah masyarakat. Lantas, apakah identitas santri masih harus ditandai oleh sarung dan peci, atau justru oleh nilai-nilai luhur yang mereka bawa dalam kehidupan modern?

Pada hakekatnya, memakai sarung pada Hari Santri adalah bentuk penghormatan terhadap tradisi dan warisan ulama terdahulu. Sarung mengandung makna kesetaraan dan kebersamaan. Dalam balutan sarung, tidak ada perbedaan antara anak petani dan anak pejabat; semua sama, semua santri. Sejarah pun mencatat bahwa dalam perjuangan kemerdekaan, para ulama dan santri bersarung turun ke medan laga dengan semangat jihad mempertahankan tanah air. Maka, setiap kali ribuan santri berbaris di lapangan mengenakan sarung dan peci hitam, suasana haru dan bangga tak bisa dihindari. Di momen itu, masa lalu seakan menyapa masa kini.

Meski demikian, jangan lupa juga, esensi Hari Santri sejatinya jauh lebih dalam daripada sekadar simbol busana. Peringatan ini adalah momentum untuk mengenang semangat juang para ulama dan santri yang menyalakan api nasionalisme. Lahirnya Hari Santri tak lepas dari Resolusi Jihad yang dikumandangkan oleh KH. Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945—sebuah seruan yang menegaskan bahwa membela tanah air adalah bagian dari iman. Karena itu, peringatan Hari Santri seharusnya tidak berhenti pada tampilan luar, melainkan mendorong kita untuk menghidupkan semangat perjuangan, pengabdian, dan keikhlasan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam kerangka itu, makna “bersarung” bisa dipahami secara lebih luas. Bersarung bukan hanya perkara berpakaian, tetapi mencerminkan cara pandang hidup seorang santri—rendah hati, santun, dan bersahaja. Bersarung berarti menjaga kesucian hati dari kesombongan, mengedepankan adab sebelum ilmu, serta menempatkan kepentingan umat di atas kepentingan pribadi. Seorang santri sejati tidak diukur dari kain yang ia kenakan, melainkan dari perilaku dan integritas yang ia tunjukkan.

Banyak pesantren modern kini telah beradaptasi dengan perkembangan zaman. Para santri memakai seragam sekolah, pakaian olahraga, bahkan jas laboratorium tanpa kehilangan jati diri. Perubahan bentuk ini bukan tanda lunturnya tradisi, tetapi justru bukti bahwa pesantren mampu bertransformasi mengikuti zaman tanpa meninggalkan ruhnya. Dunia boleh berubah, teknologi boleh melesat, namun nilai-nilai pesantren seperti ikhlas, disiplin, dan tawadhu tetap menjadi fondasi utama.

Meski begitu, tak bisa dipungkiri bahwa sarung memiliki makna batin yang khas. Ada ketenangan dan keanggunan tersendiri ketika seseorang mengenakannya. Gerak menjadi lebih teratur, hati terasa lebih lembut. Tidak heran bila banyak ulama besar tetap memilih bersarung di berbagai kesempatan—baik di majelis ilmu, khutbah Jumat, maupun acara resmi kenegaraan. Bagi mereka, sarung adalah simbol kehormatan, ketenangan, dan kematangan jiwa.

Karena itu, mengenakan sarung pada Hari Santri bukanlah hal yang salah. Justru sebaliknya, hal itu bisa menjadi bentuk penghormatan terhadap sejarah dan identitas pesantren. Namun yang lebih penting dari sekadar mengenakan sarung adalah memahami dan menghidupi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Hari Santri seharusnya menjadi ajang memperkokoh semangat belajar, berjuang, dan berbakti kepada masyarakat. Bentuknya bisa beragam—mulai dari bakti sosial, diskusi kebangsaan, karya tulis ilmiah, hingga inovasi digital yang bernafaskan nilai-nilai pesantren. Semua itu merupakan cara modern untuk mengekspresikan semangat kesantrian.

Apabila para ulama besar masa lalu seperti KH. Hasyim Asy’ari, KH. Ahmad Dahlan, atau Teungku Chik di Tiro masih hidup di era ini, mereka mungkin akan bangga melihat santri yang berdakwah melalui media sosial, menulis buku, meneliti sains, dan berkontribusi dalam pembangunan bangsa. Sebab, inti dari kesantrian tidak pernah lepas dari semangat menuntut ilmu dan mengabdi kepada umat. Santri adalah sosok yang terus berproses: memperdalam ilmu, memperbaiki akhlak, dan memperluas manfaat bagi sesama.

Dengan demikian, sarung hanyalah wadah simbolik dari nilai-nilai yang lebih dalam. Bersarung sejatinya berarti menjaga diri dari keangkuhan, mengendalikan hawa nafsu, serta menutup pintu dari perilaku tercela. Ia menjadi lambang kerendahan hati, kebersihan niat, dan kedewasaan moral. Nilai-nilai inilah yang harus senantiasa hidup dalam setiap santri, meski mereka mungkin tidak lagi mengenakan sarung setiap hari.

Oleh karena itu, ketika muncul pertanyaan “apakah Hari Santri harus bersarung?”, jawabannya tidak perlu mutlak. Bersarung boleh, sebab itu bagian dari tradisi dan penghormatan terhadap sejarah. Namun yang lebih utama adalah bagaimana nilai-nilai kesantrian tetap hidup dalam hati dan tindakan. Hari Santri bukan semata tentang kain yang dililit di pinggang, melainkan tentang semangat belajar tanpa henti, berakhlak mulia, dan mengabdi kepada negeri. Santri boleh tampil modern, berpakaian rapi atau bergaya profesional, tetapi nilai-nilai pesantrennya harus tetap melekat—karena di manapun ia berada, sejatinya santri selalu “bersarung” dalam ilmu, adab, dan amalnya.

 

Penulis adalah Pemerhati Pendidikan Pesantren dan Kepala MA Dayah MUQ Pagar Air, Aceh

0 komentar:

Posting Komentar

Resent Post

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Cari Blog Ini

Join Us

Setiap Tulisan yang Ingin diambil atau dicopy di Blog ini Sangat Etis Bila diberi tahu. Diberdayakan oleh Blogger.

Video

Popular Posts

Video of Day

Our Facebook Page

  • Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit.
  • Aliquam tincidunt mauris eu risus.
  • Vestibulum auctor dapibus neque.

Find us on Facebook

Our Facebook Page

About

News

Opinium