Pada
hakikatnya guru adalah sosok yang bukan hanya mampu berperan sebagai pengajar
tetapi juga sebagai pembimbing dan pendidik. Sebab, betapa banyak guru dalam sebuah
lembaga pendidikan misalnya, tetapi hanya beberapa orang saja yang sering ditanyakan
kembali atau dikenang oleh murid-muridnya.
Kenapa
demikian? Pertanyaannya terkadang sangat sulit dijawab. Sebab, ada guru yang secara
kasat mata tidak ada yang lebih, kelihatan biasa-biasa saja. Tetapi sangat
dihormati oleh murid-muridnya.
Karena
itu tidak heran bila berjumpa dengan teman-teman sekolah, baik teman semasa SD,
SMP dan SMA dalam mengenai nostalgia di sekolah pasti akan terselip sebuah
pertanyaan tentang guru yang tak pernah hilang dalam ingatan. Setiap jenjang
sekolah tetap ada guru-guru yang kita rasakan beda.
Kenapa
bisa? Jawabannya, ternyata guru yang selalu kita kenang itu adalah sosok guru
yang benar-benar hadir dan tersimpan dalam hati.
Bila
diingat-ingat kembali, ternyata guru di hati adalah guru yang bukan hanya
pandai mengajar saja dalam kelas. Tetapi lebih dari itu, saat dia mengajar dan
tidak sedang mengajar di dalam kelas mampu menanam sesuatu yang membuat seseorang
menjadi dirinya sendiri dan mengenali dirinya sendiri.
Karena,
keberhasilan seorang bukan hanya yang mampu membuat anak didik memperoleh nilai
tinggi pada pelajaran yang dia ajarkan tetapi yang mampu membuat motivasi anak
didiknya tumbuh dan berkembang untuk menjadi orang yang berguna di masa-masa
yang akan datang.
Terkadang,
karena sosok guru ini mampu membuat anak didiknya bahkan meski pernah tersentuh
tangan padanya. Tetapi tidak dipermasalahkannya. Bahkan apa yang dilakukan guru
dianggap wajar oleh anak didiknya.
Meskipun,
kadang kala pada saat itu anak didiknya merasa ego dan seolah-olah tidak peduli
dengan apa yang dilakukan oleh guru. Namun dalam hati dia mengakui dengan sadar
bahwa apa yang disampaikan oleh gurunya itu semuanya benar. Sehingga setelah
itu punya tekad untuk berbuat lebih baik menjadi sosok yang berguna baik untuk
dirinya, keluarga dan bagi masyarakat lain. Kemudian terbukti berhasil.
Sehingga
ada seseorang berjumpa dengan gurunya itu dan mengatakan, “Untung bapak atau
Ibu sempat menampar atau memarahi saya dulu. Kalau tidak mungkin saya tidak
menjadi seperti sekarang ini”.
Pertanyaan
kemudian adalah apakah masa kini masih ada sosok guru yang mampu hidup di hati
anak didiknya?
Tentu
saja jawabannya masih bisa ada. Meskipun persoalannya adalah saat ini guru
begitu banyak yang diciptakan oleh lembaga-lembaga kependidikan tinggi yang
tumbuh dan berkembang bagai jamur di musim hujan. Meski terakhir sudah banyak
yang ditertibkan.
Persoalan
lainnya adalah berkaitan dengan gaya hidup. Mungkin karena tuntutan zaman,
tidak boleh tidak, suka tidak suka,
ada-ada saja yang berprofesi guru tega menanggalkan idealisme. Mengajar hanya
sekedar mengajar, mentransfer ilmu tetapi tidak mendidik. Karena menganggap
guru hanya sebagai sebuah pekerjaan. Tugas yang dipahaminya hanya mengajar.
Bila telah mengajar sudah selesai pekerjaannya.
Padahal
bila dilihat dari segi kuantitas guru saat ini. Semestinya, jumlah guru yang
tumbuh di hati anak didik, kalau bisa berbanding lurus, tentu jumlahnya cukup
banyak. Tetapi tetap tidak. Guru yang bisa tumbuh dihati anak didik tidak
sebanding dengan jumlah guru yang ada. Terkadang dapat dihitung dengan jari.
Mudah-mudahan menjadi refleksi bagi kita semua. @dj.



0 komentar:
Posting Komentar