Senin, 27 November 2017

Pada hakikatnya guru adalah sosok yang bukan hanya mampu berperan sebagai pengajar tetapi juga sebagai pembimbing dan pendidik. Sebab, betapa banyak guru dalam sebuah lembaga pendidikan misalnya, tetapi hanya beberapa orang saja yang sering ditanyakan kembali atau dikenang oleh murid-muridnya.

Kenapa demikian? Pertanyaannya terkadang sangat sulit dijawab. Sebab, ada guru yang secara kasat mata tidak ada yang lebih, kelihatan biasa-biasa saja. Tetapi sangat dihormati oleh murid-muridnya.
Karena itu tidak heran bila berjumpa dengan teman-teman sekolah, baik teman semasa SD, SMP dan SMA dalam mengenai nostalgia di sekolah pasti akan terselip sebuah pertanyaan tentang guru yang tak pernah hilang dalam ingatan. Setiap jenjang sekolah tetap ada guru-guru yang kita rasakan beda.

Kenapa bisa? Jawabannya, ternyata guru yang selalu kita kenang itu adalah sosok guru yang benar-benar hadir dan tersimpan dalam hati.

Bila diingat-ingat kembali, ternyata guru di hati adalah guru yang bukan hanya pandai mengajar saja dalam kelas. Tetapi lebih dari itu, saat dia mengajar dan tidak sedang mengajar di dalam kelas mampu menanam sesuatu yang membuat seseorang menjadi dirinya sendiri dan mengenali dirinya sendiri.
Karena, keberhasilan seorang bukan hanya yang mampu membuat anak didik memperoleh nilai tinggi pada pelajaran yang dia ajarkan tetapi yang mampu membuat motivasi anak didiknya tumbuh dan berkembang untuk menjadi orang yang berguna di masa-masa yang akan datang.

Terkadang, karena sosok guru ini mampu membuat anak didiknya bahkan meski pernah tersentuh tangan padanya. Tetapi tidak dipermasalahkannya. Bahkan apa yang dilakukan guru dianggap wajar oleh anak didiknya.

Meskipun, kadang kala pada saat itu anak didiknya merasa ego dan seolah-olah tidak peduli dengan apa yang dilakukan oleh guru. Namun dalam hati dia mengakui dengan sadar bahwa apa yang disampaikan oleh gurunya itu semuanya benar. Sehingga setelah itu punya tekad untuk berbuat lebih baik menjadi sosok yang berguna baik untuk dirinya, keluarga dan bagi masyarakat lain. Kemudian terbukti berhasil.

Sehingga ada seseorang berjumpa dengan gurunya itu dan mengatakan, “Untung bapak atau Ibu sempat menampar atau memarahi saya dulu. Kalau tidak mungkin saya tidak menjadi seperti sekarang ini”.

Pertanyaan kemudian adalah apakah masa kini masih ada sosok guru yang mampu hidup di hati anak didiknya?

Tentu saja jawabannya masih bisa ada. Meskipun persoalannya adalah saat ini guru begitu banyak yang diciptakan oleh lembaga-lembaga kependidikan tinggi yang tumbuh dan berkembang bagai jamur di musim hujan. Meski terakhir sudah banyak yang ditertibkan.

Persoalan lainnya adalah berkaitan dengan gaya hidup. Mungkin karena tuntutan zaman, tidak boleh tidak,  suka tidak suka, ada-ada saja yang berprofesi guru tega menanggalkan idealisme. Mengajar hanya sekedar mengajar, mentransfer ilmu tetapi tidak mendidik. Karena menganggap guru hanya sebagai sebuah pekerjaan. Tugas yang dipahaminya hanya mengajar. Bila telah mengajar sudah selesai pekerjaannya.


Padahal bila dilihat dari segi kuantitas guru saat ini. Semestinya, jumlah guru yang tumbuh di hati anak didik, kalau bisa berbanding lurus, tentu jumlahnya cukup banyak. Tetapi tetap tidak. Guru yang bisa tumbuh dihati anak didik tidak sebanding dengan jumlah guru yang ada. Terkadang dapat dihitung dengan jari. Mudah-mudahan menjadi refleksi bagi kita semua. @dj.

0 komentar:

Posting Komentar

Resent Post

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Cari Blog Ini

Join Us

Setiap Tulisan yang Ingin diambil atau dicopy di Blog ini Sangat Etis Bila diberi tahu. Diberdayakan oleh Blogger.

Video

Popular Posts

Video of Day

Our Facebook Page

  • Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit.
  • Aliquam tincidunt mauris eu risus.
  • Vestibulum auctor dapibus neque.

Find us on Facebook

Our Facebook Page

About

News

Opinium