Awal November saya dan beberapa teman di komplek
tempat tinggal berinisiatif mengajak warga bergotong royong membersihkan
lingkungan. Alasannya, pertama, sudah lama tidak mengadakan gotong royong,
sehingga perlu dimulai kembali. Terutama
untuk memperindah tempat tinggal apalagi sudah mulai musim penghujan sehingga
lingkungan perlu dibersihkan terutama got (saluran air) yang sudah banyak
tersumbat.
Kedua, biasanya bila musim penghujan warga terutama
anak-anak rentan kena penyakit maka demi kesehatan warga sendiri lingkungan
perlu dibersihkan terutama tempat-tempat genangan air. Takut akan berkembangan
biak nyamuk yang menyebabkan deman berdarah.
Ketiga, gotong royong menjadi ajang silaturahmi antar
warga dan juga-anak kost. Mungkin selama ini sudah jarang ketemu karena
kesibukan masing-masing atau memang ada penghuni baru, yang mungkin tidak
sempat bertegur sapa dan bertemu. Kalau pun berpapasan, mungkin masing-masing
atau salah satu di antaranya di balik kaca mobil atau dibalik helm.
Kerena, masing-masing memiliki kesibukan-kesibukan tersendiri,
rencana tersebut susah beberapa kali tertunda. Namun, baru terleksana pada
Minggu (26/11). Kelihatannya, meskipun tidak sampai 100% yang hadir tetapi
cukup lumayan.
Berbicara gotong royong, sebenarnya, bukanlah hal yang
baru. Sebab jauh sebelumnya gotong royong sudah sering dilakukan. Apalagi,
gotong royong sudah menjadi budaya bangsa dan memiliki nilai filosofi yang
tinggi.
Sehingga tidak heran, semenjak masih kanak-kanak
selalu kita menyaksikan kerja bakti, nama lain dari istilah gotong royong. Bahkan, di kampung saya dulu, hampir setiap
bulan pada hari Jumat selalu dilakukan gotong royong.
Gotong royong bukan hanya membersih lingkungan
saja. Tetapi banyak hal dapat dilakukan secara gotong royong. Dulu, mulai dari
membuat tempat ibadah, membantu membuat rumah orang tidak mampu, membantu
mensukseskan pesta perkawinan warga kampung dan bahkan menanam, memotong sampai
merontokkan padi dilakukan bersama-sama secara bergotong royong.
Semangat gotong royong adalah semangat kebersamaan
dalam menyelesaikan setiap masalah atau musibah yang dihadapi individu dalam
sebuah komunitas. Satu hal yang paling penting dihikmati, saat bergotong royong
tidak lagi dipermasalahkan mengenai status seseorang. Begitupun
perbedaan-perbedaan yang ada.
Saya melihat, lingkungan (komplek) tempat tinggal saya
termasuk tempat yang dihuni oleh pendatang (bukan penduduk asli, yang
dilahirkan dari daerah itu). Karena itu, dari sekitar 200 lebih KK, memiliki
latar belakang yang tidak persis sama. Perbedaan itu bisa jadi dari kebiasaan, budaya
serta adat istiadat dan bahasa, tingkat pendidikan, tingkat kesejahteraan
keluarga dan bahkan agama.
Pertama, segi kebiasaan, budaya, adat istiadat dan
bahasa. Meskipun, mungkin masih dari suku yang umumnya sama, dan ada satu dua
yang benar-benar berbeda. Namun mereka
berasal bukan dari daerah kabupaten/kota yang sama. Sehingga pada kegiatan
tertentu, misal dari segi kebiasaan, budaya dan adat istiadat lainnya tetap ada
perbedaannya. Begitu pula bahasa, meskipun bahasa sama namun dialeg atau tutur
berbeda. Bahkan memang bahasanya sama sekali berbeda. Namun, faktanya dalam
bergotong royong tidak merasa ada perbedaan. Sama-sama bergotong royong untuk
kepentingan bersama.
Kedua, pendidikan. Komplek tempat tinggal saya,
memiliki tingkat pendidikan yang beda. Ada Profesor, Doktor, Master, sarjana
bahkan ada yang tidak pernah kuliah. Begitu pula jabatan dan pekerjaan, ada
yang staf ahli, pembantu rektor, kabid, dosen, guru, pengusaha dan sebagainya.
Tetapi pada saat melaksanakan gotong royong semua itu ditinggalkan.
Bersama-sama bersenda gurau tidak perbedaan apa-apa.
Ketiga, tingkat kesejahteraan. Mungkin dari tingkat
pendidikan, jabatan dan pekerjaan, sudah kelihatan jelas perbedaan. Namun,
semua itu tidak terlihat pada saat melaksanakan gotong royong. Pada akhirnya
pakaian dan aksesoris lain kotor, tidak ada yang bersih.
Keempat, Perbedaan Agama. Komplek tempat tinggal saya,
mayoritas muslim. Tetapi ada 2 KK yang beragama lain. Pada saat gotong tidak
perbedaan itu. Semua berbaur menjadi satu dalam kebersamaan. Saling menghargai
dan menghormati membuat semua tidak ada permasalahan. Pada saat jeda, tetap minum
kopi, teh atau snack secara bersama-sama. Tidak ada yang merasa takut, tertekan
apa lagi mengejek dan sebagainya. Tetap saling menghormati antara satu dengan
yang lain. Mereka membesarkan anak-anak mereka seperti anak-anak yang lain
juga.
Barangkali itulah spirit gotong-royong meskipun ada
perbedaan (apapun itu) tetap hilang dalam kebersamaan.
Tetapi, biasanya yang tidak suka bergotong royong dan bersosialisasi atau cenderung menutup diri itulah yang cenderung terus menerus membuat jurang pemisah. Tipe yang seperti ini biasanya yang garang dalam dunia sosial. Ayo..., mari tumbuhkan kembali budaya bergotong royong. @dj.



0 komentar:
Posting Komentar