Oleh Djamaluddin Husita
Keresahan selalu muncul dalam
hati akibat gesekan dari sebuah fenomena yang dirasakan dalam kehidupan
sehari-hari. Karena menyangkut hati, maka keresahan sangatlah eklusif bagi
seseorang. Muncul dari pengalaman batin seseorang.
Banyak yang melihat keresahan
itu dari sisi negatifnya sehingga yang muncul adalah keluhan-keluhan. Sering
kita mendengar: “Saya sangat resah hari ini”. Seolah-olah ada beban yang luar
biasa sedang menimpa dirinya. Tetapi begitulah yang sering kita rasakan.
Padahal, sesungguhnya keresahan itu muncul karena ketidakmampuan kita untuk
mengetahui solusi-solusi dengan pasti dan menyakinkan yang ada dan kita
rasakan.
Namun demikian, akibat dari keresahan-keresahan itu, tidak kurang seseorang tiba-tiba seseorang menjadi orang besar. Keresahan yang muncul bagi orang-orang seperti itu menyebabkan mereka mencari berbagai solusi-solusi tanpa mengenal lelah dan tidak menyerah. Sehingga menghasilkan karya-karya besar. Katakanlah, hasil keresahan dari seorang Thomas Alpha Edison. Sekarang kita dapat memanfaatkannya setiap hari. Bahkan hasil karyanya sudah menjadi kebutuhan primer bagi kita. Masih banyak hasil karya dari yang lain, yang kita yakini pasti berawal dari sebuah keresahan.
Namun demikian, akibat dari keresahan-keresahan itu, tidak kurang seseorang tiba-tiba seseorang menjadi orang besar. Keresahan yang muncul bagi orang-orang seperti itu menyebabkan mereka mencari berbagai solusi-solusi tanpa mengenal lelah dan tidak menyerah. Sehingga menghasilkan karya-karya besar. Katakanlah, hasil keresahan dari seorang Thomas Alpha Edison. Sekarang kita dapat memanfaatkannya setiap hari. Bahkan hasil karyanya sudah menjadi kebutuhan primer bagi kita. Masih banyak hasil karya dari yang lain, yang kita yakini pasti berawal dari sebuah keresahan.
Hal yang serupa juga terjadi
dalam dunia tulis menulis. Mereka bisa menulis dengan baik menghasilkan
berbagai teori dan hukum yang menjadi pegangan bagi kita akibat dari
keresahan-kerasahan mereka. Keresahan yang muncul dalam hati mereka kemudian
dengan tekun mencari solusi-solusi apakah dengan melakukan eksperimen. Atau
menghayati dengan benar dalam hati kemudian mereka tuangkan dalam bentuk
tulisan-tulisan. Pada awalnya mungkin berserakan dalam sebuah catatan kecil
mungkin dalam bentuk diary. Atau artikel-artikel yang dapat menjadikan pencerahan
bagi kita. Kemudian dikumpulkan dan akhirnya dijadikan sebuah buku. Atau memang
direncanakan dari awal ingin mereka tuangkan dalam sebuah buku. Maka muncullah
buku-buku dengan berbagaimacam tema.
Bila mereka resah karena
ketuhanan muncul tulisan yang bertema ketuhanan. Bila keresahan itu dari alam,
maka muncul teori-teori tentang alam. Tentang social kemasyarakat, muncul
tulisan tentang social kemasyarakatan. Tentang kemanusiaan, politik dan
sebagainya, maka mucullah tulisan yang bertemakan itu. Bahkan, tulisan
percintaan antar anak manusia menjadi tema-tema yang sangat menarik untuk
dituangkan dalam berbagai macam bentuk tulisan.
Memang tidak semuanya dapat
melakukan itu dengan baik. Namun harus diingat, sesungguhnya semua orang
memiliki potensi untuk melakukan itu. Sebab semua orang pasti merasakan
keresahan-keresahan itu. Tergantung bagaimana cara seseorang itu berusaha untuk
mampu melakukan itu. Tidak perlu harus sama persis seperti orang-orang yang
memang mumpuni dalam hal tulis menulis. Kita juga dapat melakukan itu, meskipun
dalam bentuk catatan-catatan kecil seperti ini. Bila kita sudah memulainya,
jangan pikirkan apakah yang kita tuliskan itu baik atau buruk. Dibaca orang
atau tidak.
Saat ini, media kita untuk
menulis sudah cukup banyak. Apalagi sekarang banyak sekali blog-blog gratis
yang dapat kita manfaat untuk itu. Pertanyaannya sangat personal pada pribadi
kita apakah kita mau memanfaatkan itu secara maksimal?
Saya kira, ketika kita sudah
memanfaatkan atau bergabung dengan salah satu jejaringan social seperti fesbuk
atau tuwit atau yang lainnya, itu adalah awal dari kita menuangkan segala
bentuk keresahan melalui tulisan. Bila kita membaca tulisan singkat dengan
karekter terbatas dari teman-teman melalui jejaringan social. Terbukti memang
menulis itu berawal dari sebuah keresahan.



0 komentar:
Posting Komentar