Guru merupakan salah satu komponen masyarakat yang
memiliki tugas mengajar dan mendidik anak bangsa. Karena tugas mulia ini
banyak masyarakat sangat mengharapkan guru dapat bekerja secara profesional.
Harapan Masyarakat yang cukup besar itu dapat dipahami
karena guru merupakan garda terdepan dalam memajukan pendidikan. Bila suatu
bangsa pendidikannya maju, maka dapat dipastikan negara tersebut berada
pada jajaran negara maju.
Begitu pentingnya pendidikan, maka ekspektasi
masyarakat juga besar terhadap ujung tombaknya untuk lebih fokus dalam
menjalankan tugasnya. Sehingga harapan pendidikan maju akan lebih cepat
tercapai.
Karena itu, seluruh lapisan masyarakat mengharapkan
guru tidak terpengaruh dengan hal-hal di luar tugas keprofesionalannya.
Termasuk dalam kegiatan-kegiatan politik praktis.
Namun demikian, sebagai anggota masyarakat terkadang
guru sulit untuk tidak bersentuhan dengan kegiatan politik. Ada-ada saja
yang ingin memanfaatkan guru. Apalagi guru memiliki kharisma tersendiri
sebagai anggota masyarakat.
Bahkan, sejumlah guru dalam masyarakat dipercaya
sebagai “penasehat” dalam mengambil keputusan. Lebih dari pada itu, ada
sebagian yang lain dijadikan pemangku adat atau pimpinan kegiatan lain.
Meskipun sejumlah guru sadar tidak diperbolehkan
untuk berpolitik praktis. Tetapi karena kelebihannya dalam masyarakat, banyak
pihak yang memiliki kepentingan politik selalu ingin mengambil simpatik guru.
Faktor utamanya, seperti yang telah disebutkan,
guru memiliki pengaruh dalam masyarakat. Kemudian juga secara kuantitatif juga
menjadi pertimbangan tersendiri.
Secara nasional guru PNS mencapai 40 persen dari
jumlah PNS seluruh nya. Belum lagi guru-guru non PNS yaitu guru honorer
dan guru-guru di sejumlah yayasan pendidikan yang jumlahnya cukup banyak.
Coba dibayangkan bila setiap guru mau mempengaruhi
sejumlah warga masyarakat dalam sebuah komunitas. Maka betapa suara yang
mampu diraup oleh politisi maupun partai. Maka, karena itu politisi dan partai
politik tidak mungkin memandang sebelah mata guru.
“Primadona” Pilkada
Sudah menjadi rahasia umum,banyak politisi dari
berbagai partai bila sudah dekat pilkada atau pemilu dapat dipastikan mendekati
guru. Tujuannya tentu untuk kepentingan partainya dalam mendulang suara.
Karena itu, maka dilakukan berbagai cara untuk menarik
simpati para guru.Berbagai pendekatan dilakukan dilakukan politisi maupun
partai pendukungnya. Baik secara simbolik, bikin modus, transparan dan agak
kasar.
Sebagai contoh, bila sudah mendekati atau menjelang
perhelatan seperti pemilu, pasti ada acara semacam seminar misalnya. Tentu tema-nya berkaitan dengan pendidikan
atau guru. Tetapi acaranya sudah disetting sedemikian rupa. Pada ujung-ujung
ada agenda tertentu dari sponsor.
Terkadang even seperti pertandingan olah raga dan
perlombaan lainnya muncul tiba-tiba sesuai agenda politik. Sebenarnya tidak
menjadi persoalan. Tetapi kenapa biasanya even-even tertentu seperti itu tidak
lakukan secara reguler.
Begitu pula janji-janji, misal berkaitan
masalah-masalah yang dihadapi guru. Ada yang menjanjikan penambahan uang
tunjangan kinerja dan sebagainya.
Banyak cara yang dilakukan untuk memperoleh simpati
guru. Ada yang mendekati pimpinan organisasi guru. Bahkan yang ekstrim
memanfaatkan kepala dinas pendidikan dan jajarannya. Tentu ini dilakukan,
biasanya partai yang memiliki “power”. Tentu yang partai-partai yang memiliki link
kekeuasaan. Paling kurang dengan cara mengingatkan bahwa yang duduk di kursi
itu bisa dapat digantikan kapan saja.



0 komentar:
Posting Komentar